Afi Nihaya, Pejuang Muda dengan Mulutnya

0
420

Remaja perempuan asal Banyuwangi, Afi Nihaya Faradisa, menghadapi cercaan serta pujian menyusul tulisannya di media sosial tentang toleransi dan keberagaman di Indonesia.

Tulisan remaja yang baru lulus sekolah menengah atas berjudul Warisan pekan lalu menjadi viral dengan sekitar 15.000 komentar dan dibagikan puluhan ribu kali.

Afi menyatakan akibat tulisan itu “banyak yang menjadi haters“. Bahkan dia mendapatkan “ancaman fisik dan ancaman pembunuhan” terkait tulisan tersebut.

Warisan yang diacu Afi adalah agama dan etnis dan diakhiri dengan kalimat, “Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.”

“Banyak yang jadi haters sekarang karena tulisan itu…yang mendukung saya yakin banyak dan yang mengejek juga banyak… Ada yang mengancam fisik, mengancam pembunuhan…ada yang langsung telpon,” kata Afi kepada BBC Indonesia.

Akun remaja berusia 18 tahun itu sempat “Tumbang karena di laporkan secara massal oleh pihak-pihak anti kebhinekaan. Namun, akhirnya bisa kembali. Saya tidak takut. suarakan perdamaian!!! #SayaMuslimDanSayaMencintaiToleransi.”

“Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan Muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak. Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.”

Orang Indonesia kurang bisa memahami keberagaman

Afi – yang mendapatkan tawaran beasiswa dari dua perguruan tinggi- mengatakan tulisan Warisan ia angkat karena seringnya terjadi gesekan.

“Saya mengamati apa yang terjadi di Indonesia melalui media sosial…yang saya tangkap di Indonesia sebenarnya orangnya baik-baik tapi kurang bisa memahami keragaman, jadi sering bergesekan antar satu golongan dengan golongan yang lain,” kata Afi melalui sambungan telepon.

“Saya tidak takut terhadap ancaman…Indonesia belum siap menerima pendapat yang beragam, apalagi pendapat dari anak SMA tapi saya tetap akan lanjut. Intinya tetap menulis,” tambahnya.

Kontributor Kompas.co, Ira Rachmawati, mengatakan saat tulisan di Facebook ini viral banyak yang menyangka, unggahan itu palsu.

Afi berasal dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang kaki lima dan ibunya mengalami glukoma atau penyakit mata yang mengalami kebutaan, kata Ira.

“Saya Muslim dan saya cinta saudara-saudara lain agama”

Berbagai tanggapan atas tulisannya termasuk akun Astri Paramita yang menulis, “Tolong perspektifmu ditularkan ke teman-teman segenerasi Dek Afi ya. Di pundakmu dan generasimu lah nanti NKRI berada setelah kami tiada,” dan Ni Luh Reniyani yang menyatakan, “Masih muda wawasannya udah seluas itu. Semoga masing2 (masing-masing) kita bisa merenung dan introspeksi diri. Untuk keutuhan negara kita tercinta ini.”

Dari sejumlah yang mengkritik termasuk Hanif Muhammady yang menulis, “Dagelan ini…. Agama kok warisan… Nggak pernah mikir apa agama yg (yang) paling murni.”

Menanggapi sebagian pembaca yang mengaitkan tulisannya dengan kasus penistaan agama mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang menjalani hukuman dua tahun penjara, Afi menulis, “Ini adalah tulisan untuk membenahi landasan berpikir kita, jangan apa-apa dihubungkan ke pilkada Jakarta. Mengutip perkataan John Dewer, “Pikiran itu seperti parasut; hanya berfungsi ketika terbuka.”

Pekan lalu, dalam pertemuan dengan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, ia mengangkat kekhawatirannya tentang anak-anak muda seusianya yang tak bisa menghargai perbedaan.

Anas sendiri mengatakan kepada BBC Indonesia ia mendorong Afi terus menulis dan “untuk memberi inspirasi ke anak-anak muda lainnya bahwa kita perlu rajin membaca dan menulis.”

Apa pesannya kepada anak-anak muda seusianya?

“Lebih terbuka pikirannya, dan belajar hal-hal yang tidak hanya mereka pelajari dari sekolah,” kata Afi.

Sementara melalui akun media sosialnya, ia menulis, “Saya Muslim dan saya cinta saudara-saudara lain agama. Saya percaya bahwa saya bukanlah satu-satunya Muslim yang menghargai perbedaan, mentoleransi keragaman yang adalah bagian dari kehendak Tuhan.”

Sumber : http://www.bbc.com