Awal Ramadan di Indonesia pada 27 Mei, dan diperkirakan seragam sampai 2021

0
276

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menetapkan awal Ramadan 1438 H jatuh pada hari Sabtu 27 Mei 2017 dan seorang pakar astronomi memperkirakan penetapam awal bulan puasa oleh berbagai ormas Islam akan sama sampai 2021.

Keputusan ini diambil setelah sidang isbat di kantor Kementerian Agama, Jumat (26/05), yang antara lain diikuti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan pakar falak dari ormas-ormas Islam.

Sidang tersebut dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam keterangan pers usai sidang, Lukman menjelaskan berdasarkan perhitungan hisab dan rukyat, semua peserta sidang menetapkan bahwa Sabtu, 27 Mei 2017 adalah awal Ramadan.

Menurut Lukman, kesepakatan sidang isbat dibuat berdasarkan dua hal, yaitu perhitungan hisab dan laporan petugas tersumpah di lapangan yang melihat hilal.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadan 1438 H jatuh pada 27 Mei dengan merujuk pada hasil perhitungan astronomi ahli falak.

Ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan surat pada Jumat (26/05) berisi pengumuman bahwa tim NU sudah melihat hilal (bulan) dan menetapkan awal Ramadan tahun ini jatuh pada 27 Mei.

‘Akan seragam hingga 2021’

Keseragaman penentuan awal Ramadan dan Syawal tidak hanya terjadi pada tahun ini saja, tapi juga diperkirakan terjadi hingga 2021, kata Kepala LAPAN, Thomas Djamaludin.

Perbedaan penentuan awal Ramadan dan Syawal sering terjadi di Indonesia karena dua ormas Islam terbesar di Indonesia -NU dan Muhammadiyah- memakai kriteria yang berbeda.

“Muhammadiyah memakai kriteria wujudul hilal sementara NU menggunakan kriteria dua derajat … ketika posisi bulan di ketinggian antara nol dan dua (derajat), itu pasti akan menyebabkan perbedaan,” kata Thomas kepada wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo.

“Menurut Muhammadiyah sudah masuk awal bulan, sedangkan menurut NU belum. Dan itu terjadi terakhir kali pada 2013,” katanya.

Sesudah 2014 dan hingga 2021, kata Thomas, awal Ramadan besar kemungkinan akan seragam karena posisi bulan di luar rentang antara nol dan dua derajat, lebih tinggi dari dua derajat atau masih berada di bawah ufuk.

“Memang saat ini adalah masa-masa tenang, tidak ada perbedaan, dan itu dimanfaatkan oleh pemerintah mengadakan dialog dengan ormas-ormas Islam agar ada titik temu tentang kriteria bersama,” kata Thomas.

Upaya untuk menentukan kriteria bersama, yang berujung pada keseragaman awal Ramadan dan Syawal, sudah dirintis.

Pada 2015 misalnya MUI membentuk tim pakar astronomi yang diberi tugas menyusun kriteria yang nantinya diusulkan untuk menggantikan kriteria lama.

Tim ini sudah mengusulkan kriteria baru, yaitu beda tinggi empat derajat atau tinggi bulan tiga derajat, dan jarak bulan matahari 6,4 derajat.

Thomas mengatakan kriteria ini sudah dibawa ke sidang negara-negara kawasan yang diikuti oleh Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura.

“Di forum ini, draf kriteria baru sudah disetujui untuk menggantikan kriteria di masing-masing negara,” kata Thomas.

Sumber : www.bbc.com