Masjid di Jerman, perempuan dan laki salat di saf sama

0
371

Masjid Ibn Rushd-Goethe di Jerman yang dibuka pekan lalu dengan perempuan dan laki dapat salat di saf yang sama serta dapat dipimpin imam wanita untuk beri tempat ‘Islam liberal’

Masjid Ibn Rushd-Goethe di Berlin ini dibuka pekan lalu dengan salat Jumat (16/06) dan imam perempuan.

Pihak masjid menyatakan kepada BBC Indonesia, saat ini masjid anya untuk salat Jumat dan akan direncanakan dibuka setiap hari dalam beberapa minggu mendatang.

Mereka yang pakai burka dilarang, dan perempuan, laki, LGBT, sunni, syiah disambut tanpa prasangka, kata pendiri masjid, Syeran Ates kepada surat kabar Der Spiegel.

Umat yang datang juga didorong untuk berdampingan dalam masjid, tambah aktivis perempuan keturunan Turki, Seyran Ates.

Ates pindah ke Jerman dari Turki saat ia masih kecil dan ikut terlibat dalam badan pemerintah yang membantu integrasi Muslim di Jerman.

Dia menambahkan Menteri Keuangan Jerman, Wolfgang Schäuble, pernah mengatakan kepadanya bahwa Muslim liberal harus bersatu dan hal itu memberi inspirasi untuk membentu masjid ini.

Nama masjid ini diambil dari Ibn Rushd, akademisi Islam abad ke-12 dari Andalusia, Spanyol dan penulis drama Jerman, Johann Wolfgang von Goethe.

Letaknya di lantai tiga gereja tua protestan di Moabit, kawasan dengan populasi migran.

Pemeluk Islam di Jerman berjumlah empat juta dengan mayoritas berasal dari Turki.

Berdasarkan kebijakan Kanselir Angela Markel, Jerman menerima lebih dari satu juta pengungsi sejak 2015, yang banyak berasal dari Suriah, Irak dan Afghanistan.

Merkel mendapatkan tekanan dari kelompok konservatif di Jerman karena langkah tersebut dan ketegangan meningkat menyusul serangan di negara itu.

Pada Desember 2016, Anis Amri, migran asal Tunisia yang permintaan asilumnya ditolak pemerintah Jerman, menabrak truknya di pasar Natal Berlin, dan menewaskan 12 orang. Kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS menyatakan bertanggung jawab.

“Tujuannya adalah untuk memberikan Islam liberal tempat suci,” kata Ates.

“Saya merasa sangat didiskriminasi oleh masjid-masjid biasa di mana perempuan harus salat di ruangan jelek,” tambahnya.

Bentuk baru ‘masjid feminis’ juga muncul di negara lain.

Di London, misalnya, masjid yang didirikan perempuan dibuka pada 2012. Imam perempuan secara rutin memimpin salat dan semua kalangan disambut, termasuk gay dan lesbian.

Di California, Swiss dan Denmark, masjid campuran seperti ini juga dibuka.

Sumber : bbc.com