Aksi ibu pejabat tampar petugas Bandara Manado dan cerita lainnya

0
154

Sebuah video calon penumpang pesawat menampar petugas Aviation Security (Avsec) di Bandara Sam Ratulangi, Manado beredar luas dan menjadi viral di media sosial.

Video berdurasi 12 detik itu memperlihatkan seorang perempuan berkacamata hitam bersitegang dengan seorang petugas perempuan Avsec, pada Rabu (05/07).

Perempuan berkacamata hitam itu tampak sangat berang dan dipeluk seorang perempuan lainnya yang mencoba menahan amarahnya. Namun, tiba-tiba sang perempuan melayangkan tamparan pada pipi petugas di depannya.

Belakangan, dalam jumpa pers, petugas bernama Elisabet Wehantow mengaku berupaya meminta calon penumpang tersebut untuk melepaskan jam tangan agar dapat diperiksa mesin sinar-X.

“Kalau menurut saya, saya sudah melakukan seperti yang sesuai prosedur, kalau mungkin ibunya kurang senang, saya juga kurang tahu. Tapi saya bisa pastikan bahwa sikap saya waktu itu, sangat-sangat profesional memperlakukan selayaknya penumpang,” kata Elisabet saat memberikan keterangan resmi di Bandara Sam Ratulangi, Kamis (06/07).

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi langsung merespons insiden tersebut.

Melalui kicauannya di Twitter, Budi Karya menulis: “Menyayangkan sikap arogansi kpd (kepada) petugas Aviation Security di bandara Sam Ratulangi Manado. Saya sdh (sudah) minta agar sgr (segera) lakukan upaya hukum”.

Kasus ini hingga saat ini terus bergulir seiring dengan proses hukum yang berlangsung. Calon penumpang yang menampar petugas sudah dilaporkan atas dugaan penganiayaan. Sebaliknya, sang calon penumpang melaporkan petugas bandara ke kepolisian atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan.

Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan perempuan berkacamata hitam itu bernama Joice Warouw, istri Johan Angelo Sumampouw yang berpangkat brigadir jenderal dan bertugas di Lembaga Ketahanan Nasional.

Mencakar Polisi

Sebelum aksi tampar terhadap petugas bandara, tindakan serupa mengemuka akhir tahun lalu.

Kala itu, nama Dora Natalia Singarimbun sempat mencuat lantaran video amatir menampilkan dirinya marah besar kepada polisi yang menilangnya.

Dalam video itu dia terlihat menyerang, memaki bahkan mencakar polisi yang kemudian diketahui bernama Aiptu Sutisna.

Menurut polisi, Dora yang mengaku sebagai pegawai di Mahkamah Agung ini ditindak karena masuk ke jalur bus Transjakarta di Jatinegara, Jakarta Timur. Peristiwa yang terjadi di jam sibuk ini kontan menyita perhatian khayalak ramai.

Atas tindakannya itu, Dora dilaporkan kepada pihak kepolisian karena serangan kepada petugas.

Namun, kasus ini selesai secara kekeluargaaan setelah Dora dan keluarganya bertemu Aiptu Sutisna dan meminta maaf.

Mengaku anak Jenderal

Makian terhadap polisi juga dilakukan seorang siswi SMA di Medan ketika dia dan teman-temannya melanggar aturan lalu lintas saat konvoi sesuai Ujian Nasional pada April 2016.

Saat diberhentikan petugas, siswi tersebut mengaku sebagai anak Irjen Pol Arman Depari, Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN). Siswi yang diketahui bernama Sonya ini bahkan mengancam para petugas.

“Oke Bu ya, aku nggak main-main ya Bu. Kutandai Ibu ya. Aku anak Arman Depari,” ujarnya dalam video amatir yang diunggah di media sosial.

Sesaat setelah video insiden itu menjadi viral, Irjen Arman Depari sempat menepis bahwa siswi itu adalah anaknya. Namun, belakangan, dia mengaku bahwa siswi itu adalah keponakannya.

Diusir dari pesawat dan insiden rawon

Tindakan Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga, Roy Suryo, pernah diperbincangkan netizen ketika menolak untuk turun dari pesawat lantaran salah jadwal. Kejadian ini terjadi pada 2011.

Kejadian itu bermula ketika pria tersebut salah naik ke pesawat Lion Air yang tidak sesuai dengan jadwal di tiketnya. Saat diminta turun oleh kru pesawat, Roy malah menolak.

Alhasil terjadi perseteruan di dalam kabin pesawat. Tidak hanya kru, penumpang lainnya pun ikutan ‘mengusir’ Roy Suryo.

Tak hanya itu, politisi Partai Demokrat ini juga mendapat sorotan netizen lantaran insiden ‘Rawon Setan’ pada Maret 2014 lalu ketika rombongan Kemenpora dilaporkan lupa membayar makan siang di Warung Rawon Setan, Jalan Embong Malang, tepatnya di seberang Hotel Marriot Surabaya.

Roy Suryo langsung menyampaikan penjelasan melalui Twiter bahwa insiden tersebut murni kesalahan protokol. Namun begitu, akibat kejadian ini, Roy dicerca di Twitter.

Sisa Feodalisme

Psikolog dari Universitas Gadjah Mada Noor Rochman Hadjam menilai fenomena yang melibatkan pejabat atau keluarganya seperti ‘lingkaran setan’ yang menunjukkan adanya krisis identitas di masyarakat.

Menurut Noor, lantaran menjadi pejabat atau merasa menjadi keluarga pejabat, mereka merasa kebal terhadap segala-galanya dan ingin mendapat keistimewaan tertentu.

“Ini suatu gejala, dan tidak hanya menjadi gejala tapi mewabah bahwa lantaran statusnya yang tinggi maka harus mendapat perlakuan khusus,” ujar Noor Rochman.

Keinginan untuk mendapat hak-hak istimewa ini, lanjutnya, menular ke ke anggota keluarganya yang juga menghendaki ‘privilege’ yang sama.

Ia pula menyebut fenomena ini mengindikasikan sisa-sisa feodalisme di masyarakat Indonesia, lantaran mental penjajah membuat seseorang merasa mendominasi tiap kali dia memiliki status yang lebih tinggi.

“Kendati begitu, saya melihat ini oknum aja, ada pejabat justru lebih andap asor, bisa menghargai orang yang lebih kecil. (Hal ini dilakukan) hanya (oleh) oknum-oknum tertentu yang gila kekuasaan dan derajat sosial,” cetusnya.

Senada, psikolog Kasandra Putranto melihat fenomena ini menunjukkan feodalisme di masa lalu yang masih kental dalam kesadaran kolektif masyarakat sehingga orang yang memiliki derajat lebih tinggi menjadi lebih arogan dan menganggap remeh orang yang derajatnya lebih rendah.

Kendati demikian, Kasandra mengingatkan tindakan arogan yang terjadi bisa jadi dipengaruhi oleh kondisi emosional orang tersebut ketika insiden terjadi. Reaksi yang berlebihan, seperti mengamuk dan menampar menunjukkan kapasitas pengendalian emosi yang buruk.

“Kondisi di Indonesia, lantaran perkembangan emosional yang buruk menyebabkan munculnya karakter orang-orang macam ini. Ini fenomena yang justru ada ketika seseorang tumbuh namun tidak memiliki kapasitas emosional dan sosial yang baik,” jelas Kasandra.

Sumber : bbc.com