Apakah pejalan kaki lebih cerdas dari orang yang memilih naik kendaraan?

0
169

Hasil penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kota yang warganya banyak berjalan kaki, memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang tinggi. Mengapa demikian?

Apakah sehari-hari Anda memilih untuk berjalan kali, atau naik kendaraan? Jawaban Anda diyakini dapat menggambarkan tingkat pendidikan Anda, papar sebuah studi.

Sebuah laporan singkat yang diluncurkan bulan lalu mengungkapkan kota-kota di Amerika Serikat yang ramah terhadap pejalan kaki kerap memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Warganya juga lebih berpindidikan.

Studi ini dilakukan oleh badan advokasi masalah tata kota, Smart Growth America, yang berbasis di negara bagian D.C. Penelitian dilakukan terhadap 30 kota besar di Amerika dan menelaah seberapa kondusif kantor, tempat berbelanja dan perumahan untuk pejalan kaki.

“Hasilnya mengejutkan,” tulis rilis pers penelitian itu. “Pusat keramaian di 30 kota yang gampang diakses dengan jalan kaki, memiliki market share yang lebih tinggi dibandingkan yang harus ditempuh dengan berkendara.” Selain itu, “ada korelasi positif antara keterjangkauan dengan jalan kaki dan tingginya level pendidikan di tempat kerja bersangkutan.”

Pertanyaannya adalah, mengapa? Apakah orang cerdas lebih suka jalan kaki? Jawabannya tidaklah sederhana.

Tempat yang ramah pejalan kaki punya populasi yang lebih pintar

Christipher Leinberger dari Fakultas Bisnis Universitas George Washington, salah satu peneliti dari temuan tersebut mengungkapkan, daerah yang ramah pejalan kaki “memilih jumlah warga cerdas sepertiga kali lebih banyak dibandingkan yang ramah pengemudi.”

Namun, dia tidak tahu apakah tempat yang ramah pejalan kaki menarik orang yang lebih berpendidikan, atau orang yang berpendidikanlah yang pindah ke suatu kota yang kemudian menjadi ramah pejalan kaki.

Ini seperti pertanyaan mana yang lebih dulu telur atau ayam. Namun yang jelas kami tahu adalah bahwa orang berpendidikan tinggi lebih memilih tempat-tempat yang banyak area pejalan kakinya.

Contohnya, tiga kota dengan jumlah kantor, pusat perbelanjaaan dan pemukiman terbanyak – New York, Washington dan Boston – memiliki jumlah warga berusia 25 tahun ke atas dengan pendidikan setidaknya S1, yang sangat banyak. Washington memiliki jumlah warga dengan klasifikasi tersebut (51%), dan Boston di posisi ketiga (42%).

Tidak hanya itu, tidak hanya tingkat orang dengan pendidikan yang tinggi yang ramai di kota yang ramah pejalan kaki, tingkat pertumbuhan ekonomi juga. Besarnya gap antara tingkat ekonomi tertinggi dan terendah dari kota yang diteliti mencapai 49%, yang disebut Leinberger sebagai “masalah serius”.

Tapi tentunya korelasi ini bukan berarti hubungan sebab akibat. Belum cukup data untuk menyimpulkan, mengapa kota-kota yang melarang kendaraan dan yang pusat perbelanjaan sehari-harinya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, dipenuhi orang-orang berpendidikan.

Namun, jelas ini layak untuk jadi perbincangan: banyak tren sosioekonomi yang dapat membantu menjelaskan mengapa lulusan universitas belakangan ini cenderung memilih tinggal di kota-kota metropolis yang memiliki banyak jalur subway (kereta bawah tanah) dan trotoar.

Kota-kota ‘mengurangi’ mobil untuk menarik warga pintar

Sudah lama kota-kota yang pusat ekonominya bergantung jalan raya, tidak masuk ke dalam daftar kota dengan tingkat pendidikan dan pertumbuhan ekonomi tertinggi.

Meskipun begitu, Leinberger mengemukakan dua kota pengecualian, yang memiliki tingat pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi skor pejalan kakinya rendah; Houston dan Dallas, keduanya di negara bagian Texas.

Pada tahun 1980an, infrastruktur-infrastruktur Dallas yang bergantung mobil (lahan parkir, mal), memiliki pertumbuhan ekonomi yang tumbuh 2,5 kali lebih cepat dibandingkan infrastruktur yang ramah pejalan kali, misalnya trotoar.

Sekarang, angka tersebut berubah. Kawasan perkotaan Dallas yang ramah pejalan kali memiliki pertumbuhan saat ini 2,5 kali lebih cepat. Jumlah infrastruktur untuk kendaraan tetap lebih banyak, karena telah dibangun sejak lama.

Meskipun begitu, sejalan dengan pertumbuhan infrastruktur yang ramah pejalanan kaki, banyak warga Amerika yang pindah ke Texas. Pertumbuhan ekonomi negara bagian ini mencapai 5,2% pada 2014. Jika Texas adalah sebuah negara yang berdiri sendiri, Texas akan menjadi negara dengan tingkat perekonomian tertinggi nomor 12 di dunia, antara Kanada dan Australia.

Ramai berdatangannya warga yang berpendidikan tinggi ke Texas, akan membawa uang dan menumbuhkan ekonomi – serta meningkatkan permintaan terhadap teknologi non-mobil.

Texas saat ini sedang mengembangkan kereta peluru, serupa shinkansen Jepang. Kereta ini akan menghubungkan Dallas dan Houston.

Meningkatnya urbanisasi bukanlah satu-satunya alasan kota-kota yang anti-mobil, mencari warga yang lebih pintar. Anak muda, juga memegang peran penting.

‘Magnet milenial’ menarik orang muda

Milenial – mereka yang lahir antara 1981 hingga 1996 – adalah generasi paling berpendidikan dalam sejarah. Hampir sebagian dari mereka memegang gelar sarjana. Mereka pindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan, sehingga dengan alasan itulah kota besar dengan tingkat pertumbuhan tinggi memiliki warga dengan tingkat pendidikan yang tinggi pula.

“Fenomena ini pada dasarnya didorong oleh milenial,” ungkap Leinberger.

Saat ini, orang-orang berusia 20an dan 30an tahun, menunda untuk menikah, memiliki anak dan punya rumah, meskipun karir mereka semakin mapan. Alhasil, rumah besar di pinggiran kota, lengkap dengan mobil, tidak lagi menjadi hal penting. Jadi, milenial pergi ke kampus, meraih gelar sarjana, lalu pindah ke kota, lengkap dengan subway dan area ramah pejalan kakinya.

Apa yang terjadi ketika milenial memutuskan untuk berumah tangga? “Satu hal yang terus kami ingin buktikan adalah fakta bahwa milenial yang memutuskan untuk menikah dan pindah ke pinggiran, adalah mereka yang pada akhirnya membuat daerah pinggiran itu lebih ‘kota’,” kata Leinberger. “Mereka ingin semua tempat ramah pejalan kaki.”

Dia mencontohlan kota Arlington, di negara bagian Virginia. Hanya sekitar 9km dari Washington, D.C. Arlington adalah kota pinggiran yang 90% jalan-jalannya memiliki trotoar, puluhan kilometer jalan untuk pesepeda, dan akses gampang ke Metrorail, sistem subway Washington.

Kota-kota kecil di antara Dallas dan Houston, juga serupa dengan Virginia. Profesional muda, berpendidikan tampaknya ingin semua daerah menjadi lebih ramah pejalan kaki.

Melihat ke depan

Tapi tetap, tidak cukup data untuk menyebutkan alasan utama terkait hubungan antara pejalan kaki dan tingkat pendidikan.

Tapi ada fakta lain yang bisa kita lihat. Kota-kota besar terus menambah infrastruktur yang ramah lingkungan untuk menarik orang muda berpendidikan yang tentunya akan lebih banyak ‘menghasilkan uang’.

Orang muda dengan gelarnya, berupaya untuk tinggal di kota yang menyediakan layanan transportasi umum dan tempat-tempat yang ramah pejalan kaki. Dan orang muda ini akan mengubah tempat yang tidak ramah pejalan kaki.

Lalu, apakah orang-orang yang lebih banyak berjalan kali, lebih bekerja keras, memiliki tingkat pendidikan yang tinggi pula? Sulit untuk menjawabnya. Namun, satu yang pasti. Jika kota ingin memiliki penduduk yang pintar dan siap melonjakkan tingkat pertumbuhan ekonomi, kota tersebut sebaiknya menambah trotoar dan tempat pejalan kaki.

Sumber : bbc.com