Dari Ganyang Malaysia ke ‘Malingsia’, sejumlah perseteruan dua negara serumpun

0
219

Malaysia adalah negeri yang paling memiliki kemiripan dengan Indonesia; sama-sama mayoritas Islam, bahasanya serumpun, dan bahkan memiliki perbatasan darat di Kalimantan Utara, dengan etnis Dayak yang juga ada di bagian Kalimantan Indonesia.

Namun ternyata Malaysia bukan negeri paling erat hubungannya dengan Indonesia, melainkan justru ‘paling berseteru’, seperti terbukti pada insiden kesalahan pencetakan bendera RI di buku SEA Games 2017.

Reaksi atas terbaliknya pemasangan bendera Indonesia itu menunjukkan lagi eksplosifnya hubungan sosial Indonesia dan Malaysia.

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi insiden-insiden yang awalnya kecil, atau bisa dipandang sebagai hal sepele, berkembang jadi sentimen anti Malaysia yang luar biasa.

Perlakuan buruk terhadap tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia beberapa kali mendapat sorotan, namun tetap gemanya berbeda jika yang jadi masalah adalah hal-hal simbolik.

Beberapa tahun lalu bahkan sebagian warga Indonesia memplesetkan nama Malaysia menjadi ‘Malingsia’, merujuk tudingan bahwa Malaysia ‘mencuri’ dengan menampillkan sejumlah budaya yang diyakini sebagai budaya Indonesia, dalam iklan wisata negeri itu.

Dua ‘harta budaya’ yang muncul dalam iklan Visit Malaysia Year, iklan untuk menarik kunjungan wisatawan ke Malaysia, adalah Reog Ponorogo dan dalam kesempatan lain, lagu Rasa Sayange.

Dan dipuncaki dengan kekalahan hukum dan politik Indonesia terkait sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan.

“Namun ketegangan Indonesia dan Malaysia sudah berakar jauh lebih lama,” kata sejarawan Bonnie Triyana.

Pemimpin redaksi Historia, majalah sejarah satu-satunya di Indonesia itu menambahkan, masalah bermula, ketika pada tahun 1963, Malaya yang merdeka 1957 menjadi Federasi Malaysia, atau Malaysia sekarang minus Singapura, dengan bergabungnya bekas jajahan Inggris lain: Singapura, Brunei, Sabah dan Sarawak yang berada di Kalimantan Utara.

“Soekarno tidak suka, karena ada kelompok di dalam Kalimantan Utara yang ingin kawasan itu bergabung dengan Indonesia,” kata Bonnie pula.

Presiden Soekarno menganggap Malaysia adalah boneka Inggris.

“Sukarno memandang federasi Malaya adalah proyek imperialisme Inggris di wilayah Asia Tenggara. Itu tak sejalan dengan cita-cita Sukarno terutama sejak pelaksanaan KAA 1955,” tambah Bonnie.

Soekarno kemudian melancarkan politik Konfrontasi di bawah apa yang disebut Dwi Komando Rakyat alias Dwikora, yang komando keduanya adalah, ‘bantu perlawanan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, Sabah, dan Brunei,’ untuk membubarkan negara Malaysia.

Soekarno mengerahkan para ‘sukwan-sukwati’ atau sukarelawan-sukarelawati, yakni para milisi, yang dikirim ke Sarawak dan Sabah untuk melakukan sabotase. Soekarno mempopulerkan slogan konfrontasi saat itu: Ganyang Malaysia.

Konfrontasi dengan Malaysia mereda seiring jatuhnya Soekarno tahun 1965. Hubungan Indonesia-Malaysia mengalami normalisasi lewat Soeharto. Tapi sepertinya masih ada ‘api dalam sekam’ antara dua negara serumpun ini.

Betapa pun, kata Bonnie, ketegangan Indonesia Malaysia sesudah itu hanya berupa kegaduhan-kegaduhan saja. Tak mengarah pada konfrontasi apalagi perang.

Berikut beberapa ‘api dalam sekam’ yang sempat meletup dalam hubungan Indonesia-Malaysia

Hukum gantung WNI di Malaysia

Malaysia menerapkan kebijakan keras untuk perkara narkotika dan obat-obatan, yang dikenal sebagai dadah di sana. Sebagian besar terpidana dijatuhi hukuman mati.

Sejak akhir 1990-an, hukuman gantung untuk perkara-perkara ini marak di Malaysia, termasuk terhadap sejumlah warga Indonesia yang dinyatakan sebagai pengedar, yang sebagian di antarnya disebut-sebut hanya dijebak.

Namun warga Indonesia yang digantung di Malaysia bukan hanya karena kasus narkoba, melainkan juga untuk perkara kejahatan lain, seperti perampokan dengan kekerasan dan pembunuhan, serta sengketa buruh atau PRT dengan majikan yang berujung pembunuhan.

Muncul juga laporan-laporan tentang perlakuan kejam yang dialami TKI di Malaysia.

Berbagai protes dilancarkan dari berbagai kalangan Indonesia. Namun sebagian besar hukuman gantung tetap dijalankan.

Indon

Warga Indonesia merupakan mayoritas dari pekerja asing di Malaysia. Sekitar satu juta orang Indonresia tercatat sebagai pekerja resmi, namun ratusan ribu lagi merupakan pekerja gelap atau imigran gelap.

Istilah Malaysia untuk imigran tak berdokumen resmi ini adalah ‘pendatang haram,’ yang memunculkan rasa bahasa ‘menghinakan bagi orang Indonesia’.

Lebih-lebih lagi, beberapa kalangan Malaysia menyebut orang-orang Indonesia di sana, ratusan ribu, bahkan lebih dari sejuta pekerja dan bahkan pelajar atau mahasiswa, sebagai Indon. Atau orang Indon.

Istilah praktis yang juga dirasa menghinakan oleh banyak kalangan Indonesia. Sebagaimana nada merendahkan di Inggris, jika menyebut keturunan Pakistan sebagai Paki.

Istilah Indon menurut banyak orang Malaysia, sekadar menyingkat saja, tanpa nada menghina. Kadang petugas Imigrasi, saat memeriksa wartawan dari Indonesia, berkata, ‘Oh dari Indon,’ tanpa nada memojokan.

Namun berbagai sengketa, dan banyaknya istilah Indon terutama ketika ada pembicaraan tentang pidana yang dilakukan oleh orang Indonesia, membuat banyak orang Indonesia menganggap Indon merupakan istilah yang memojokkan.

Dimunculkanlah istilah balasan untuk balik merendahkan Malon, yang dalam berbagai perbincangan disebut merupakan kepanjangan dari Malaysia bloon.

SipadanLigitan

Ini mungkin bibit sengketa paling serius sejak normalisasi hukubungan kedua negara: saling aku wilayah kepulauan Sipadan-Ligitan. Setelah bertahun-tahun saling gertak dan bertegang-tegang, akhirnya kedua pihak sepakat menyerahkan pemnyelesaiannya kepada Mahkamah Internasional.

Dan sialnya, Indonesia kalah: Mahkamah Internasional menetapkan kawasan Sipadan Ligitan merupakan bagian dari kedaulatan wilayah Malaysia, pada 17 Desember 2002.

Kasus ini membuat Indonesia jadi lebih sensitif setiap kali ada saling klaim wilayah. Misalnya saat ada ketegangan sekitar Blok Ambalat pada 2005.

Reog, Rasa Sayange, Pendet, Tari Piring

Histeria anti-Malaysia menemukan bentuknya yang lain tatkala pada 2007 muncul lagu Rasa Sayange pada sebuah iklan pariwisata Malaysia. Muncul kehebohan, menuduh Malaysia mencuri harta budaya Indonesia.

Disusul kemudian pemunculan reog ponorogo, tari lilin, dan tari pendet dalam film-film iklan wisata Malaysia yang lain -yang sebagian tidak dibuat oleh perusahaan Malaysia.

Sebelumnya muncul juga tuduhan bahwa Malaysia hendak mengklaim batik sebagai milik Malaysia, karena ada sebuah perusahaan Malaysia yang mempatenkan sebuah motif batik ciptaan mereka.

 

Histeria lain muncul tatkala ada kalangan Mandailing Malaysia yang menyerukan agar tari Tortor khas batak diakui sebagai warisan budaya dunia.

Yang menarik, histeria itu terkadang menghinggapi pejabat pula.

Pada tahun 2007, misalnya, menteri kebudayaan dan parawisata Jero Wacik mengirim surat protes khusus atas dan kepada wartawan mengatakan bahwa ‘Malaysia berulah lagi,’ terkait pemunculan tari pendet.

Bahkan ia diberitakan menyerukan warga Indonesia untuk tidak berlibur ke Malaysia.

Dari kasus-kasus yang dituding oleh beberapa kalangan di Indonesia sebagai ‘pencurian budaya’ itu muncul sebutan ‘Malingsia’ yang menghinakan, terlepas dari benar tindakan tudingan-tudingan itu.

Dan sekarang, histeria anti-Malaysia marak lagi. Setelah kasus pencetakan bendera secara terbalik, beredar posting tentang penelantaran kontingen Indonesia oleh panitia SEA Games 2017, misalnya ihwal makanan mereka.

Sejauh ini, itulah topik utama menyangkut Indonesia di SEA Games ke-29 ini. Prestasi negeri terbesar di Asia Tenggara yang masih terpuruk di bawah negeri yang jauh lebih kecil, masih belum jadi perhatian.

Sumber : bbc.com