Fotografer tanpa lengan: Rusidah ingin dihargai fotonya bukan karena kecacatannya

0
288

Rusidah Badawi kehilangan separuh lengannya sejak lahir, hal yang membuatnya lebih sulit dibanding orang lain dalam menggeluti fotografi sejak lulus dari sekolah menengah. Wartawan BBC Indonesia Sri Lestari dan Oki Budhi menemui Rusidah di kediamannya di Purworejo Jawa Tengah.

Matahari begitu terik dan kerumunan penonton pertunjukan kuda kepang di Pasar Purworejo begitu padat. Namun Rusidah begitu sigap dan penu semangat dalam mengabadikan momen demi momen. Dia bergerak dari sana ke sini dari sini ke sna, lain untuk mencari sudut yang bagus untuk mengambil foto.

Sesekali dia memperlihatkan hasil fotonya kepada Andi Mahfuri, mahasiswa Universitas Muhamadiyah Purworejo yang menjadi salah satu ‘murid-‘nya. Beberapa bulan terakhir ini, Andi belajar fotografi pada Rusidah.

Membagikan ilmu fotografi merupakan salah satu aktivitas Rusidah sehari-hari, selain menjadi juru foto untuk berbagai acara di lingkungan pemerintah kabupaten Purworejo dan juga pernikahan.

Dia ingin orang melihatnya sebagai seorang fotografer profesional.

“Saya lebih suka dengan membeli foto saya karena memang betul-betul melihat hasil saya bukan karena kasihan, saya juga tak mau dikasihani,” ungkap Rusidah, ” Penyandang difabel tidak perlu dikasihani, dan tidak perlu minta belas kasihan.”Sejak kecil Rusidah mangaku diajarkan mandiri oleh orangtuanya.

“Tidak menjadi hambatan bagi saya, bahkan menjadi acuan dan semangat bagi saya untuk menghadapi tantangan,” kata dia.

Mempelajari fotografi tak pernah terlintas dalam pikiran perempuan kelahiran 1968 ini ketika memutuskan melanjutkan pendidikan ke Pusat Pelatihan untuk penyandang cacat di Solo.

Awalnya Rusidah ingin memperdalam ketrampilan menjahitnya.

“Saya waktu sekolah sudah ambil eskul menjahit, jadi saya bisa memiliki dua ketrampilan, ada satu orang yang memiliki satu tangan belajar fotografi, dan menghasilkan uang dari foto keliling,” kata dia.

Kondisi fisik Rusidah yang tidak memiliki jari, membuatnya lebih sulit mempelajari fotografi.

“Belajar pertama kali (mengambil) foto itu dulu masih film, saya masih ragu apakah saya masih bisa atau engga, karena praktek foto menggunakan film itu goyang sedikit aja sudah buram, guru saya merekayasa itu agar membuat tripod di dada, lalu di kamera ada skrup yang menonjol agar tidak goyang,” jelas Rusidah.

Selama satu tahun, Rusidah mempelajari fotografi bersama dengan rekan-rekannya sesama difabel. Namun, pada awalnya dia tak sepenuhnya yakin dengan kemampuannya meski telah menggunakan peralatan fotografi yang dimodifikasi.

“Namanya film itu kan goyang sedikit sudah byur (buram), tapi dalam hati saya penuh keyakinan akan mampu, saya praktek berulang-ulang, bahkan sampai lulus dari situ saja saya belum yakin,” ujar Rusidah.

Setelah lulus, Rusidah pun kembali ke Purworejo dan kembali mengasah kemampuan fotografinya dengan modal kamera pinjaman dari gurunya.

“Pulang dari sana, saya langsung ke keramaian, itu langsung berburu foto,” jelas Rusidah.

Berburu foto di tengah keramaian menurut Rusidah, sangat membantu meningkatkan mentalnya untuk menjadi juru foto.

“Tukang foto itu satu, banyak orang memandang kita, yang saya foto seratus semua melihat kita, itu mental juga perlu,” jelas perempuan yang memiliki satu anak laki-laki ini.

Selain menguji mental, Rusidah juga menggunakan hasil fotonya untuk meyakinkan calon konsumennya.

“Lalu dijadikan satu album jadi foto keliling, saran dari guru saya untuk menarik konsumen saya memberi seragam polisi dan tentara, (lalu) saya tunjukan (ke konsumen) ini bu, saya keliling desa, itu awalnya,” kata Rusidah.

Menjadi juru foto keliling itu, Rusidah mulai dikenal banyak orang di Purworejo, dan mendapat pekerjaan menjadi fotografer di berbagai acara pernikahan.

Menurut Rusidah, menjadi juru foto dalam acara pernikahan memiliki tanggung jawab yang lebih besar, apalagi ketika itu masih menggunakan film.

“(Ada) kejadian saya motret pengantin malam hari, saya motret pengantin pas mati lampu pas pengantin mau dinikahkan, alhamdulillah saya bisa mengatasinya ada lilin kecil dan hasilnya masih bagus, ” kisah Rusidah.

“Kedua kejadian lagi saya motret begitu nikah masih diucapkan kamera saya layar tertutup gelap gulita untuk membidik, padahal tukang foto hanya saya, terus saya puter tak buat kecepatan seribu, lalu layarnya kembali terbuka, Itu masih (menggunakan) film,” kata Rusidah.

Dari kamera manual ke digital

Selain menjadi juru foto keliling dan acara pernikahan, Rusidah juga mulai menawarkan diri untuk mendokumentasikan sejumlah acara dharma wanita Kabupaten Purworejo dan PKK, dari situ pula dia kemudian mendapatkan bantuan kamera.

“Saya menunjukkan hasil foto saya (kepada mereka),” kata dia.

Rusidah yang sering diundang mendokumentasikan berbagai acara pemkab tersebut lalu menarik sejumlah kalangan termasuk media. Sejumlah media pun memuat profilnya sebagai fotografer, pemberitaan itu membuat dirinya mendapatkan kamera dari para donatur. Meski begitu Rusidah mengaku menyukai sebuah kamera yang dia beli dengan jerih payah sendiri. Sampai saat ini semua jenis kamera itu pun masih terawat dan disimpan dengan baik.

Di luar aktivitas bekerja, Rusidah pun aktif dalam komunitas fotografi dan komunitas difabel di Purworejo.

Setelah lebih dari sepuluh tahun menguasai berbagai kamera, Rusidah harus mulai kembali belajar menggunakan kamera digital yang didapatnya dari sumbangan sebuah bank swasta.

“Waktu dapat kamera saya takut salah (kalau memotret), menyesuaikannya hampir 1 bulan lebih,” kata Rusidah.

Dia mengaku belajar menggunakan kamera digital pada anaknya, yang ikut serta ketika Rusidah pertama kali menerima kamera dan diberi pelatihan singkat.

“Kalau ada apa-apa saya belajarnya sama anak saya,” kata dia sambil tersenyum.

Dengan kamera digital dan printer untuk foto, Rusidah pun dapat membuka studio foto sederhana di rumahnya, dengan perlengkapan seadaanya seperti karpet berbagai warna yang digunakan sebagai latar belakang foto.

Pekerjaan sebagai juru foto ini, Rusidah dapat membangun rumah dan menyekolahkan putra tunggalnya. Namun, meningkatnya pengguna kamera digital dan smartphone menurunkan jumlah permintaan untuk menjadi juru foto dalam berbagai acara.

Tapi Rusidah mengaku tak risau karena memiliki usaha lain di luar fotografi, salah satunya membuka warung angkringan di depan studio fotonya bersama dengan suaminya, Suradi.

“Yang mengatur rezeki itu Allah, apapun kapanpun yang mau manggil saya, kadang saya juga bisnis lain,” ungkap Rusidah.

Meski begitu, Rusidah mengaku tak ingin lepas dari dunia fotografi.

“Selain (sebagai) profesi saya juga suka dengan dunia foto, saya sangat bersyukur sekali karena saya banyak kenalan banyak relasi di bidang apapun itu juga melalui foto. Saya juga kenalan di mana-mana di Asia Tenggara itu karena foto. Saya juga berkenalan dipanggil oleh pak presiden (SBY) itu karena foto, kalau saya dulu mengambil penjahit itu mungkin (kenalan) tak seluas di dunia foto,” ungkap Rusidah.

Sumber : bbc.com