Di Jawa, babi paling jelek sedunia terekam kamera

0
250

Babi kutil Jawa berada dalam kondisi terancam bergitu rupa oleh pemburuan dan hilangnya habitat sehingga para pelestari lingkungan yang mengamati habitatnya meyakini bahwa hewan ini telah mengalami kepunahan.

Namun kamera-kamera perangkap mengungkapkan bahwa masih ada populasi kecil babi kutil atau babi bagong itu yang bisa bertahan di hutan Jawa yang semakin gundul.

Tim pengamatan mengatakan bahwa mereka sekarang akan bekerja keras untuk melindungi habitat hewan langka tersebut.

Survei tersebut dipimpin oleh Dr Johanna Rode-Margono dari Kebun Binatang Chester, yang mengatakan bahwa dia dan para sejawatnya ‘sangat girang’ melihat bahwa babi-babi itu masih ada di sana.

Studi terakhir sebelmnya tentang kawasan hutan dataran rendah ini terjadi pada tahun 2004 dan menyimpulkan bahwa populasi spesies ini anjlok secara drastis.

“Kami cemas seluruh atau sebagian besar spesies ini akan lenyap,” katanya kepada BBC News.

Konflik manusia-babi

Binatang dengan muka berbulu dan penuh bintil ini mungkin bukan satwa paling fotogenik di Pulau Jawa, namun Dr Rode-Margono mengatakan bahwa mereka mengambil peran penting dalam ekologi hutan – mengolah tanah dan menyebarkan benih saat mereka mencari makan.

Dan di Jawa, pulau yang paling padat di Indonesia, mereka juga merupakan lambang dari beratnya tekanan manusia yang terus berlangsung di hutan tropis Indonesia.

Babi kehilangan habitat akibat deforestasi untuk pembangunan pertanian dan perkotaan. Namun babi juga menghadapi konflik langsung dengan manusia. Hewan ini dianggap hama dan sering diburu karena mereka sering menjarah tanaman warga.

“Berburu (babi kutil) untuk olahraga juga merupakan ancaman lain”, kata Dr Rode-Margono. Juga berburu babi untuk sekadar iseng. “Dan spesies itu mungkin mengalami persilangan dengan babi hutan Eropa.” Hal itu bisa mengakibatkan spesies itu mengarah ke kepunahan.

“Itu berarti ancaman terhadapnya terus berlanjut dan jika kita tidak melakukan langkah apapun, semakin banyak populasi yang akan lenyap,” kata Dr Rode-Margono.

“Ini bahaya besar, peringatan bahaya yang besar untuk urusan ini.”

Sebuah pusat satwa liar di Jawa sudah memulai program pengembangbiakan babi kutil yang nama latinnya Sus verrucosus itu, dan para ilmuwan berharap untuk mengidentifikasi daerah-daerah lain yang memungkinkan hewan-hewan ini dilepaskan dan terlindungi di alam liar.

“Masih ada harapan,” kata Dr Rode-Margono kepada BBC News. “Jika kita bisa merancang proyek-proyek konservasi yang efektif, mungkin kita bisa melestarikan hewan ini.”

“Bagi saya,” tambahnya, “babi kutil itu tidak buruk rupa – mereka cantik.”

“Dan segala sesuatu di ekosistem kita terhubung satu sama lain – setiap pohon, setiap tanaman, setiap binatang. Mereka semua saling bergantung satu sama lain.”

“Jika ada yang hilang, akibatnya yang lain bisa hilang pula, Itu merupakan reaksi berantai yang kita tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi.”

Sumber : bbc.com