Natal: Banser NU yang menjaga gereja-gereja Indonesia dan ‘dikafir-kafirkan’

0
303

Sekitar dua juta personil Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama dari Gerakan Pemuda Ansor tahun ini dikerahkan untuk menjaga gereja-gereja selama perayaan Natal di Indonesia, yang dianggap ‘kafir’ oleh sejumlah kelompok Muslim.

Menjaga gereja-gereja di seluruh Indonesia telah dilakukan Banser, bekerja sama dengan kepolisian, selama puluhan tahun untuk “memberikan rasa aman dan nyaman kepada saudara Nasrani kita”, kata ketua umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

Yaqut mengatakan dalam upaya Banser ini, tak sedikit mereka menghadapi ‘fitnah’ dan ‘bully’ dari kelompok lain.

“Kami selalu dikafir-kafirkan, menjaga gereja itu berarti kami ikut dalam keyakinan saudara kami Kristiani… Kita bandingkan sekarang, saudara-saudara Nasrani tiap hari mendengar suara azan lima kali dan ada pengajian di banyak tempat, apa keimanan mereka berubah? Tidak,” kata Yaqut kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

“Kalau kemudian ada Muslim yang ikut menjaga gereja dan keimanan berubah, yang salah Muslimnya. Kalau ada yang khawatir jaga gereja, dan terganggu keimanannya, orang ini keimanannya pasti belum beres,” tambahnya.

Fitnah lain, kata Yaqut yang mereka hadapi termasuk ‘dibilang banser nyari proyek, nyari beras’. “Buat kita suara seperti itu tak penting.”

Pastur di Katedral Jakarta, Christoforus Kristiono Puspo, menyebut langkah yang dilakukan Banser NU setiap tahun ini sebagai sesuatu “yang sangat indah.”

“(Banser) secara sukarela untuk datang ikut serta menjaga mengamankan, membuat damai membuat khusyuk teman-teman Katolik di katedral pada Ekaristi malam Natal. Bagi saya ini upaya genuine (sungguh-sungguh)… sangat harmoni dan sangat indah, dan kami sangat terima kasih sekali, kami merasa aman, dan dilindungi, sehingga dengan lancar Ekaristi berjalan,” kata pastur Kristiono.

Banser Riyanto yang mati syahid

Dalam perayaan Natal kali ini, lebih dari 3.000 cuitan muncul tentang Riyanto, salah seorang anggota Banser yang meninggal saat menjaga keamanan gereja di Mojokerto, Jawa Timur, pada tahun 2000.

“Tepat 17 Tahun (Minggu 24 Des 2000 – Minggu 24 Desember 2017) meninggalnya alm Riyanto Banser NU. Mari kita sejenak menghadiahkan doa untuk sahabat kita, almarhum Riyanto. Mengenang Riyanto ‘Pahlawan Kemanusiaan,” cuit GP Ansor.

Pada malam Natal 17 tahun lalu itu, Riyanto mengetahui ada bungkusan berupa bom dan ia berteriak: “Tiaraaaap” sambil lari mendekap bungkusan tersebut menjauh dari gereja yang dihadiri ratusan jemaat yang sedang beribadah.

Tubuhnya terpental hingga sekitar seratus meter, jari tangan dan wajah Riyanto hancur, sementara seorang rekannya cacat di mata kanannya.

etua Umum GP Ansor Yaqut mengatakan, “Bagi kami, Riyanto ini pahlawan kemanusiaan. Demi nyawa banyak orang dia rela mengorbankan nyawanya tanpa melihat latar belakang agama.”

“Ini sesuai dengan keyakinan kami sebagaimana dicontohkan oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Ali bin Abi Tholib Karamallahu Wajhah, bahwa mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Dalam pandangan kami, Riyanto ini tewas dalam kondisi mati syahid,” kata Yaqut.

Pendeta di gereja Mojokerto, Rudi Sanusi Wijaya, mengatakan -seperti dikutip sejumlah laporan- bahwa umat Kristiani selalu mendoakan Riyanto setiap perayaan Natal.

Nama Riyanto kemudian diabadikan menjadi nama jalan di kota itu.

Mengamankan Indonesia

Menurut Yaqut, para Banser juga siap untuk menjaga hari besar agama lain termasuk Buddha dan Hindhu.

“Bagi Banser kami punya keyakinan tak ada Indonesia tanpa ada bermacam agama. Ada Islam, Kristen, Hindu, Buddha karena semua kita ikut berjuang memerdekan negara ini.”

“Jadi tak boleh ada satu kelompok pun yang menganggu kenyamanan saudara saudara kita yang sedang menjalankan ibadah agama. Kita sebagai umat Muslim, Banser merasa berkewajiban untuk melindungi yang jumlahnya lebih kecil,” tegas Yaqut.