Setiap tahunnya jutaan kendaraan meninggalkan Jakarta saat arus mudik Idul Fitri. Tak heran hal ini membuat beberapa ruas jalan yang biasanya sangat padat menjadi lenggang.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, ruas jalan yang akrab dengan kemacetan karena merupakan area perkantoran seperti Jl Gatot Subroto, Jl. Satrio, dan Jl. Kemang Raya terlihat sangat lenggang.

Meski demikian, ada realitas yang cukup mengejutkan di Idul Fitri 1440 Hijriah. Kualitas udara Jakarta rupanya masih buruk pada H-1 Lebaran.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu, mencatat Air Quality Index (AQI) Jakarta pada Selasa (4/6) atau H-1 Lebaran polusi udara sempat menyentuh 210 US AQI.

Dengan angka ini, ia melanjutkan, kota Jakarta menjadi juara kualitas udara terburuk di dunia pada hari itu.

Angka ini mengalahkan kota Chengdu, China, dengan 171 US AQI, dan kota Dubai, Uni Emirat Arab.

“Jakarta sempat nomor satu (terburuk) dengan US AQI 210. Dengan angka ini berarti masuk kategori sangat tidak sehat. Padahal Jakarta sangat lowong saat itu,” kata Bondan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (6/6).

Padahal salah satu sumber polutan yakni pembakaran kendaraan bermotor sudah berkurang signifikan mengingat jutaan kendaraan telah meninggalkan Jakarta.

Oleh karena itu ia menuding ada sumber polutan lain yang membuat udara Jakarta sangat buruk.

Ia meminta agar Pemprov Jakarta bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bisa mencatat sumber-sumber polusi dan tren penurunan hingga peningkatan AQI US Jakarta.

“Harusnya tren ini ini dicatat oleh KLHK. Kadang tinggi, kadang rendah, itu harus dicari sumber polutannya. Lalu supaya ada langkah strategis yang bisa dilakukan,” ujar Bondan.

Kandungan Particulate Matte (PM) 2,5 Jakarta juga sangat tinggi pada 4 Juni 2019 pukul 00.00 WIB dengan angka 135 mikrogram/m3. Dengan angka ini, PM 2,5 di Jakarta masuk kategori tidak sehat.

PM 2,5 adalah senyawa partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Partikel ini mengancam kesehatan masyarakat karena bisa masuk ke paru-paru hingga jantung manusia.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Dasrul Chaniago mengatakan pada hari Lebaran dan malam takbiran, PM 2,5 meningkat karena banyak kendaraan yang turun di jalan.

“Tipikal udara Jabodetabek saat Lebaran. Pada hari pertama biasanya PM 2.5 naik, karena terjadi macet habis Salat Id, mobil-mobil ke luar rumah untuk silaturahmi,” kata Dasrul.

Alat pemantau PM 2,5 bisa mengetahui kondisi udara tingkat sehat, tidak sehat bagi orang sensitif (gangguan pernapasan atau asma), dan tidak sehat di suatu area. Alat ini bisa mengukur debu dengan partikel di bawah 2,5 mikrometer yang bisa masuk sampai ke paru-paru manusia.

Partikel udara yang terhirup oleh masyarakat yang berada di area dengan tingkat PM 2,5 bisa membahayakan paru-paru. Jika dibiarkan dalam waktu lama bisa memicu penyakit asma, bronkitis, dan Penyakit Paru Obstruktif Konstruktif (PPOK).

Udara di Mata Pejalan Kaki

Kualitas udara Jakarta pada hari kedua Lebaran (6/6) berdasarkan situs Air Visual menunjukkan angka 113 AQI US. Dengan angka ini, udara sangat tidak sehat bagi orang sensitif.

Angka ini lebih baik dibandingkan angka-angka AQI US pada satu bulan terakhir. Rata-rata AQI US sebelum arus mudik berada di angka sekitar 150 AQI US.

PM 2,5 di Jakarta pada 6 Juni juga merupakan yang terendah dalam satu bulan terakhir dengan angka 40,5 mikrogram/m3.

Rendahnya angka polusi saat Lebaran ini mendapat komentar positif dari masyarakat di Indonesia. Salah seorang pejalan kaki di Kemang, Mia mengatakan udara di Jakarta pada H-1 Lebaran hingga hari kedua Lebaran lebih segar dibandingkan hari-hari biasa.

Mia bercerita ia merupakan seorang pegawai perusahaan swasta yang berlokasi di daerah Semanggi, Jakarta Selatan. Sehari-hari ia menggunakan dua alat transportasi, yaitu ojek online dan bus Trans Jakarta.

“Udaranya pasti beda dari hari- hari biasa, lebih segar, lebih sejuk. Arus lalu lintas juga lancar dibandingkan hari- hari biasa,” ujar Mia.

Seorang pengendara motor yang ditemui CNNIndonesia.com di Terminal Kampung Rambutan, Winda mengatakan udara di Jakarta terasa lebih bersih dibandingkan hari biasa.

Wanita yang berprofesi sebagai psikolog anak ini biasa menggunakan motor pribadi untuk berangkat kerja ke daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Setiap harinya, ia mengaku sudah jenuh menghirup asap kendaraan di jalan.

“Ya tiap hari saya pakai masker, biar tidak kena polusi. Tadi ke Antasari & Pondok Gede, udaranya enak. Tapi pas di Blok M masih banyak mobil dan bis itu udaranya masih polusi,” kata Winda.