Muslim Rohingya: 15 Bus dan Truk Disediakan, Tak Seorang Pun Mau Kembali ke Myanmar

0
604

Upaya untuk mengembalikan pegungsi Rohingya dari Bangladesh mengalami kegagalan sesudah tak satu pun dari mereka yang muncul, sekalipun pemerintah Bangladesh sudah menyediakan lima bus dan sepuluh truk untuk mengangkut mereka ke Myanmar.

Sebanyak 3.450 orang sudah diidentifikasi untuk dikembalikan ke Myanmar, dari total sekitar 740.000 yang mengungsi sejak tahun 2017.

Namun para pengungsi tidak berani kembali sampai ada jaminan keselamatan dan pemberian kewarganegaraan kepada mereka.

Ada ketakutan di kalangan pengungsi bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam kamp khusus seandainya mereka kembali ke Myanmar.

Sementara itu juru bicara PBB mengatakan setiap upaya repatriasi harus bersifat sukarela.

Tak ada yang muncul

Pemerintah Bangladesh sudah menyediakan lima bus dan 10 truk yang akan berangkat dari kota Teknaf, Bangladesh, tetapi tak ada satupun pengungsi Bangladesh yang muncul.

“Kami sudah menunggu sejak jam 9 pagi,” kata Khaled Hossain, petugas Bangladesh yang bertanggung jawab di Teknaf kepada kantor berita AFP. “Tapi tak ada yang muncul”.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 740.000 pengungsi Rohingya di Bangladesh yang lari akibat agresi yang dilakukan oleh militer Myanmar di Negara Bagian Rakhine pada tahun 2017.

Mereka bergabung dengan lebih dari 200.000 orang Rohingya yang sudah ada di Bangladesh sebelumnya.

PBB menyatakan agresi tersebut dilakukan mirip dengan pembersihan etnik.

Upaya repatriasi terbaru ini – setelah upaya pada bulan November tahun lalu yang juga gagal – dilakukan menyusul kunjungan ke kamp pengungsi oleh pejabat tinggi Myanmar yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Myint Thu.

Ketika itu Kementerian Luar Negeri Bangladesh menyampaikan daftar sekitar 22.000 nama pengungsi Myanmar untuk diverifikasi dan pemerintah Myanmar menyatakan 3.450 nama telah dipastikan bisa “dipulangkan”.

“Tidak aman”

Namun hari Rabu (21/08), beberapa pengungsi yang namanya ada di daftar tersebut menyatakan tak ingin kembali kecuali kalau ada jaminan terhadap keselamatan mereka dan pemberian kewarganegaraan.

Nur Islam, salah seorang dari mereka menyatakan kepada AFP, menyatakan “tidak aman untuk kembali ke Myanmar”.

Pejabat PBB dan komisi pengungsi Bangladesh juga kini mewawancarai keluarga Rohingya di pengungsian menanyakan apakah mereka berminat kembali ke Myanmar.

“Kami telah mewawancara 295 keluarga. Tak ada dari mereka yang berminat untuk ikut repatriasi,” kata Komisioner Pengungsi Bangladesh Mohammad Abul Kalam kepada wartawan.

Pemimpin Rohingya di pengungsian Jafar Alam mengatakan kepada AFP bahwa pengungsi dicekam ketakutan ketika rencana repatriasi ini diumumkan.

Mereka khawatir akan dimasukkan ke dalam kamp pengungsi dalam negeri di Myanmar seandainya mereka kembali.

“Sukarela”

Sementara itu di New York, juru bicara PBB Stephane Dujarric menyatakan upaya repatriasi ini harus bersifat “sukarela”.

“Segala macam upaya pemulangan harus bersifat sukarela dan berkelanjutan, dilakukan dengan aman dan bermartabat ke tempat asal sesuai pilihan mereka,” kata Dujarric.

Dewan Keamanan PBB kini melakukan pembicaraan tertutup mengenai masalah ini hari Rabu (21/08).

Etnik Rohingya tidak diakui secara resmi sebagai etnik minoritas di Myanmar dan dianggap sebagai pendatang Bengali, sekalipun mereka sudah tinggal di Rakhine selama beberapa generasi.