Keluarga dan tetangga mengingat terduga pelaku serangan bom Kampung Melayu

0
177

Bagaimana seorang penjahit dari Garut bisa menjadi terduga pelaku serangan bom bunuh diri di Kampung Melayu?

Bocah laki-laki itu tersenyum dengan mata yang bulat. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa ayahnya telah tewas sebagai terduga pelaku bom bunuh diri..

H adalah anak pertama Ahmad Sukri, 32, salah seorang dari pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu yang telah berhasil diidentifikasi polisi.

Usianya baru 4 tahun. Ia ditemui saat berada di sebuah warung bersama neneknya, EN, di Kampung Ciranji, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (27/05). Sesekali terdengar ia bersenandung.

Tapi tiba-tiba mukanya merengut seperti hendak menangis. Ia mulai merengek.

“Ummi mana? Mau ke ummi, nek,” rengeknya.

Si nenek terdiam. Ia sendiri tidak mengetahui ke mana dan kapan menantunya itu pulang. Yang bisa ia lakukan hanyalah membujuk cucunya dengan jajanan.

EN hanya mengetahui menantunya, Hil, dibawa polisi ke Jakarta untuk mengenali jenazah Ahmad, Kamis (25/05).

Saat dibawa polisi, Hil sedang berada di rumah EN karena mencari suaminya.

Hil hanya membawa anak keduanya, I, yang masih menyusu, sedangkan H ditinggalkan bersama EN.

“Dari Garut si teteh datang, mencari suaminya, sambil bawa anak-anak,” tutur EN pada wartawan Julia Alazka yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Sejak 6 bulan lalu, Ahmad memboyong isteri dan kedua anaknya, H dan I, tinggal di Garut dengan alasan ada pekerjaan menjahit.

Ahmad memang dikenal sebagai seorang penjahit pakaian. Rencananya, ia akan kembali ke Kampung Ciranji saat Ramadan. Namun EN justru mendapat kabar anaknya menjadi salah satu pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu.

EN sulit mendapati kenyataan anaknya menjadi pelaku teror.

Perempuan 60 tahun itu tak henti menangis dan tubuhnya bergetar ketika ditanya mengenai putra sulungnya itu. Dari mulutnya keluar ucapan istighfar dan doa.

“Mohon dikuatkan menghadapi cobaan ini,” ucapnya dalam bahasa Sunda sambil berurai air mata.

Obrolan pun dialihkan ke hal lain. Tentang kesehariannya sebagai seorang petani, tentang cucu-cucunya, tentang suaminya yang sudah lama meninggal. Namun semua itu kembali mengingatkan dia pada Ahmad.

“(Ahmad) tidak terperhatikan, tidak ada ayahnya, saya tidak bisa mendidiknya, saya manusia yang tidak bisa apa-apa,” ungkap EN.

Abdul Latif, suami EN, sudah meninggal sejak Ahmad masih kecil. Usia mereka memang terpaut cukup jauh.

Suami EN itu dikenal sebagai seorang penghulu yang berasal dari Bengkulu. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga orang anak. Ahmad adalah anak pertamanya.

Karena ulah anaknya itu, EN sempat dibawa ke Polrestabes Bandung untuk tes DNA dan dimintai keterangan. EN menjalani pemeriksaan selama sehari penuh, satu hari setelah ledakan bom panci yang menewaskan 3 orang anggota polisi itu.

“Waktu tahu anaknya jadi pelaku bom, dia shock, sampai pingsan-pingsan,” kata B, adik EN yang ikut mendampingi selama pemeriksaan.

B tidak menyangka keponakannya itu menjadi salah satu pelaku teror.

Ia mengenal Ahmad sebagai seorang anak yang baik dengan pergaulan yang sama seperti anak lain di kampungnya. Ia cukup dekat dengan Ahmad kecil karena tinggal bertetangga.

Namun selepas SMP, Jang Ahmad, begitu B biasa memanggilnya, merantau ke Kota Bandung.

“Jang Ahmad kerja, jadi penjahit di pabrik, kalau gak salah di daerah Gede Bage Bandung,” tuturnya.

Sejak itulah, B tidak terlalu mengetahui pergaulan keponakannya itu. Pertemuan hanya terjadi jika Ahmad pulang ke rumahnya. Meski telah menikah dan memboyong isterinya tinggal di Ciranji, Ahmad tetap bolak balik ke Bandung dengan alasan bekerja.

Kampung Ciranji masuk ke wilayah Desa Sirnagalih yang letaknya sekitar 65 kilometer dari Kota Bandung.

Untuk menuju kampung itu, orang harus melewati PLTA Saguling dengan jalan berkelok yang untungnya dalam kondisi mulus. Namun 20 kilometer menuju Kampung Ciranji, jalan berbatu dengan turunan dan tanjakan yang curam harus dilalui.

Ahmad Sukri lahir dan besar di kampung tersebut. Ia memilih keluar dari kampung itu dan bekerja sebagai penjahit dibanding mengikuti jejak ibunya sebagai petani. Hingga kini, ia masih tercatat sebagai warga Kampung Ciranji, meski telah pindah ke Garut.

Ahmad dikenal sebagai pemuda yang alim dan rajin beribadah serta aktif dalam kegiatan di kampungnya. Dia juga suka membaca buku-buku Islam. Hal itu dibuktikan dari hasil penggeledahan di rumahnya dimana ditemukan sebanyak 25 buku, yang salah satunya berjudul Tadzkiroh karangan Ustadz Abu bakar Ba’asyir.

“Ibadahnya tekun, soleh. Saya tidak menyangka,” kata Ketua RT, Jenal Muttaqin, saat ditemui di rumahnya, Sabtu.

Jenal memastikan warganya itu menjadi pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu. Ia mengenali Ahmad, saat polisi menunjukkan foto jenazah yang diduga pelaku.

“Saya lihat fotonya. Ini siapa, kata polisi. Saya langsung mengucapkan Innalillahi, badan saya tiba-tiba lemas,” kata Jenal.

Dari foto itu, Jenal mengenali muka Ahmad yang kondisinya masih utuh, sedangkan tubuhnya rusak.

Jenal mengaku prihatin salah satu warganya terlibat aksi teror. “Prihatin. Merugikan anak sama orangtua, kasihan,” ungkap dia.

Sumber : www.bbc.com