Kisah ibu dan dua anak perempuan yang ditelantarkan suami mereka

0
837

Ini kisah tentang kaum istri di desa nelayan di negara bagian Tamil Nadu, India selatan, yang ditelantarkan oleh suami mereka dan harus berjuang untuk bertahan hidup.

Bagi mereka kehidupan sangat keras. Mereka mengalami diskriminasi dan tak bisa menikah lagi, kata fotografer Deepti Asthana yang mengabadikan keseharian satu keluarga yang semuanya ditinggalkan oleh suami.

Muthukaraupayi, perempuan dari Desa Dhanuskodi berusia 52 tahun, ditinggalkan suaminya 24 tahun lalu begitu saja tanpa proses cerai apalagi kompensasi. Di usia yang masih muda, ia harus bertahan hidup dan juga menghidupi dua anak perempuan.

Ia kemudian memutuskan menjadi nelayan.

Dua anaknya, Amudha (26 tahun) dan Selvi (29 tahun), berumur masing-masing dua dan lima tahun ketika ayah mereka pergi.

Saat beranjak besar, keduanya tak punya banyak pilihan dan menikah sebelum menginjak umur 18 tahun, usia minimal di India untuk membangun keluarga.

Selvi membantu Muthukaraupayi sebagai nelayan sejak berusia delapan tahun.

Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal, jatuh cinta dengan anak tetangga dan hamil saat berusia 14 tahun. Mereka menikah tapi suaminya pergi tak lama kemudian.

Proses perceraiannya memakan waktu delapan tahun.

Selvi punya anak laki-laki bernama Nambudivin, yang kini berusia 14 tahun. Selvi mengatakan Nambudivin tak pernah bertanya siapa ayahnya.

“Saya tak ingin ia menjadi nelayan. Saya ingin ia menjadi pegawai kantor ketika besar nanti,” kata Selvi.

Diskriminasi

Berbeda dengan Selvi, Amudha sempat bersekolah meski kemudian putus di tengah jalan karena Muthukaraupayi tak punya cukup uang untuk membiayai pendidikannya.

Selain itu, kebutuhan sehari-hari terus meningkat yang membuat Amudha harus bekerja untuk membantu menopang keluarga.

Amudha sekarang punya dua anak, termasuk seorang anak perempuan berusia lima tahun. Suami Amudha meninggalkannya dua tahun lalu gara-gara pertengkaran hebat yang dipicu kebiasaan suaminya mengonsumsi minuman keras.

Di pedesaan India, tidak ada proses cerai secara resmi atau pengaturan formal soal hak pengasuhan anak setelah pasangan suami-istri berpisah. Tetua desa biasanya turun tangan jika ada masalah rumah tangga.

Para gadis di Desa Dhanushkodi bekerja sejak remaja untuk mengumpulkan uang yang nantinya dipakai untuk membayar mas kawin dan biaya pernikahan yang sering kali sangat mahal.

Rata-rata satu dari sepuluh perempuan di Desa Dhanushkodi ditelantarkan oleh suami.

Bagi keluarga Muthukaraupayi, kasusnya lebih parah karena ia dan dua anaknya semuanya ditinggalkan oleh suami.

Padahal lembaga perkawinan masih sangat penting dalam kehidupan sosial dan sering kali kaum istri yang ditelantarkan suami ini direndahkan atau mengalami diskriminasi.

Mereka tak pernah bisa menikah lagi.

Sumber : bbc.com