Jalur Gaza: Pertempuran Israel-Palestina Berlanjut Usai Kematian Komandan Jihad Islam Palestina

0
127

Kekerasan lintas-perbatasan antara Israel dan para militan Palestina di Jalur Gaza terus berlanjut, sehari setelah serangan udara Israel menewaskan komandan Jihad Islam Palestina.

Setelah jeda semalam, tembakan roket ke Israel dilanjutkan dan pesawat Israel pun melakukan serangan balasan.

Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza menyatakan 26 warga Palestina tewas oleh tembakan Israel pada Rabu (13/11) malam, termasuk tiga anak-anak.

Di Israel, 63 orang dirawat akibat luka dan gejala stres yang diderita.

Rabu malam, kelompok militan Palestinian Islamic Jihad (PIJ) menawarkan sejumlah syarat untuk gencatan senjata, yang mencakup diakhirinya penargetan pembunuhan militan dan pengunjuk rasa perbatasan Gaza oleh Israel serta langkah-langkah untuk meringankan blokade ke daerah kantung Palestina.

Sejauh ini, Israel belum memberikan pernyataan apapun terkait tawaran gencatan senjata itu.

Apa yang terbaru?

Setelah jeda selama enam jam, militan PIJ kembali menembakkan roket sekitar pukul 6.30 waktu setempat (11.30 WIB), memicu sirene serangan udara di Israel bagian selatan dan tengah.

Setidaknya 360 roket telah ditembakkan ke arah Israel dari Gaza sejak Selasa (12/11) lalu, kata tentara Israel. Mereka menambahkan bahwa 90% di antaranya berhasil dicegat.

Seorang perempuan tua terluka akibat pecahan kaca setelah sebuah roket menghantam rumahnya di kota Ashkelom di selatan Israel, menurut laporan media Israel. Roket lainnya menghantam sebuah pabrik di kota Sderot.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa mereka telah membom lebih banyak target – kelompok PIJ – di Gaza hari Rabu (13/11) kemarin sebagai balasan, termasuk markas militer di Khan Younis dan sebuah pabrik produksi hulu ledak roket jarak jauh di selatan Gaza.

IDF mengatakan “20 teroris” telah berhasil dibunuh, sebagian besar di antaranya dari kelompok Jihad Islam.

Kementerian Kesehatan di Gaza, yang dikelola oleh militan Hamas, mengatakan bahwa tiga anak menjadi korban dari total 23 orang yang tewas dalam serangan udara Israel pada hari Rabu (13/11).

PIJ mengatakan bahwa korban tewas termasuk anggota sayap militer mereka, Brigade al-Quds. Khaled Faraj, seorang komandan lapangan, terbunuh dalam serangan udara di Gaza tengah.

Utusan perdamaian Timur Tengah PBB, Nickolay Mladenov, memperingatkan bahwa eskalasi yang berkelanjutan “sangat berbahaya”.

“Peluncuran roket dan mortir tanpa pandang bulu terhadap pusat-pusat penduduk benar-benar tidak dapat diterima dan harus segera dihentikan,” katanya. “Tidak ada pembenaran atas serangan terhadap warga sipil.”

Dalam sebuah pernyataan, badan amal Save the Children mengatakan pihaknya “sangat prihatin dengan pertempuran yang baru-baru ini meningkat”, dan menyerukan gencatan senjata segera.

“Untuk hadi kedua, ratusan ribu anak terkena dampak penutupan sekolah di Gaza dan Israel selatan, di mana para orang tua takut akan dampak pembalasan lebih lanjut.

“Tim kami di Gaza tidak dapat pergi bekerja dan program kami telah ditangguhkan,” kata badan amal itu.

Apa yang terjadi pada hari Selasa?

Sebuah serangan udara Israel pada saat menjelang subuh pada bangunan perumahan di Kota Gaza timur membunuh Baha Abu al-Ata, komantan militer senior PIJ, serta istrinya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, rumah pemimpin lain dari kelompok yang didukung Iran itu diserang oleh rudal Israel di Damaskus, menewaskan dua orang, kata media pemerintah Suriah. Israel tidak memberikan komentar terkait insiden itu.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menggambarkan sosok Abu al-Ata sebagai seorang “teroris” dan sebuah “bom waktu” yang menimbulkan ancaman bagi negara itu.

Abu al-Ata diduga berada di balik serangan roket dari Gaza, termasuk serangan 10 hari lalu di Sderot, serta semakin banyak bertindak di luar kendali faksi dominan militan Hamas.

Militan di Gaza mengatakan Israel telah melewati “garis merah” dan menembakkan lebih dari 200 roket sebagai balasan.

Sekitar 90% roket yang ditembakkan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome, kata IDF, tetapi satu meledak di jalan utama dekat dengan mobil yang lewat, dan di tempat lain dua orang terluka ringan akibat pecahan peluru. Seorang gadis berusia delapan tahun juga menderita serangan jantung di tempat perlindungan bom dan masih berada dalam kondisi serius.

IDF mengatakan pihaknya melakukan serangan duara di Gaza dengan menargetkan unit dan infrastruktur peluncur roket milik PIJ. Kementerian Kesehatan di Gaza menyatakan delapan orang terbunuh, selain Abu al-Ata dan istrinya.

Apa kata kedua belah pihak?

Juru bicara PIJ Musab al-Buraim mengatakan kepada kantor berita Shehab yang terkait dengan Hamas bahwa tidak “pantas” mendiskusikan upaya Mesir untuk mengakhiri konfik ketika kelompok tersebut masih melakukan pembalasan atas kematian Abu al-Ata.

“Ketika kita sudah selesai memberikan balasan, kita bisa membahas tentang ketenangan,” katanya.

Pada awal pertemuan kabinet istimewa hari Rabu (13/11), PM Netanyahu memperingatkan PIJ bahwa jika mereka tidak menghentikan tembakan roket, Israel akan terus menghantam Gaza.

“Mereka hanya punya satu pilihan: entah menghentikan serangan-serangan ini atau menerima lebih banyak serangan,” tuturnya.

Sebelumnya, juru bicara IDF Brigjen Hidai Zilberman mengatakan kepada media Israel bahwa baterai Iron Dome tambahan telah dikerahkan ke Israel tengah sebagai tindakan pencegahan, dan bahwa unit komando telah dikirim ke sejumlah kelompok masyarakat di dekat perbatasan Gaza untuk membela mereka jika terjadi serangan infiltrasi oleh militan.

Belum ada tanda bahwa Hamas, yang mengendalikan Gaza, berniat untuk bergabung dalam pertempuran. Jika itu terjadi, konflik akan meningkat tajam, kata wartawan BBC Barbara Plett Usher di Yerusalem.

Untuk mencegah hal itu, para pejabat Israel telah mengisyaratkan bahwa mereka hanya menargetkan PIJ, dan bukan Hamas. Jenderal Zilberman mengatakan IDR “berjalan di atas seutas tali”.

Koresponden BBC mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya para pejabat Israel membuat perbedaan antara kedua kelompok selama konflik perbatasn – biasanya mereka meminta Hamas bertanggung jawab atas kekerasan dari Gaza.

IDF mengatakan pada hari Selasa bahwa Baha Abu al-Ata telah merusak upaya baru-baru ini untuk menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas.