Orang-orang yang minum darah manusia

0
51

Di kawasan French Quarter di New Orleans, AS, John Edgar Browning siap berpartisipasi dalam “feeding” atau “pemberian makan” yang awalnya adalah sebuah prosedur medis.

Pertama, kenalannya mengusapkan punggung atas Browning dengan alkohol, dan kemudian menusukkan pisau bedah sekali pakai, dan menekan sampai darah mulai mengalir.

Lalu kenalan Browning mulai mendekatkan bibirnya ke luka tersebut dan mulai menyesapnya. “Dia meminum darah beberapa kali, lalu membersihkan dan memasangkan perban pada saya,” kata Browning.

Tapi Browning dibuat terkejut, karena darahnya dianggap tak sesuai selera tuan rumahnya tersebut.

“Katanya darah saya tak kuat rasa logamnya seperti seharusnya – jadi dia agak kecewa,” katanya. Ternyata diet, cairan tubuh dan tipe darah bisa memberi perbedaan pada rasa darah.

Setelah luka dibersihkan, mereka pun pergi ke acara makan malam amal untuk membantu warga tunawisma.

Sebagai seseorang yang takut pada jarum, Browning sedikit cemas terhadap proses pemberian makan. “Sebenarnya saya takut apapun yang tajam mengenai kulit saya,” katanya.

Tapi sebagai peneliti di Louisiana State University, Browning siap mengikuti proses tersebut untuk proyek terbarunya: sebuah studi etnografis terhadap komunitas “vampir asli” di New Orleans.

Apakah minum darah itu adalah sebuah ritual keagamaan, delusi, atau fetish?

Sebelum bertemu vampir, Browning mengira mereka hidup antara fakta dan fiksi. “Saya berasumsi bahwa orang-orang ini gila dan membaca terlalu banyak novel Anne Rice.”

Saat dia menawarkan diri sebagai donor, opininya berubah total. Banyak vampir asli yang tak percaya pada paranormal dan bahkan tak begitu tahu soal serial True Blood atau film dan buku Dracula; dan mereka pun bukan orang-orang dengan masalah kejiwaan.

Bahkan, mereka mengklaim mengalami kondisi kesehatan yang aneh – kelelahan, sakit kepala, dan sakit perut parah – yang mereka percaya hanya bisa diobati dengan minum darah manusia.

Buat banyak orang, vampirisme adalah sebuah tabu; dalam beberapa dekade terakhir, vampirisme dikaitkan dengan pembunuhan kejam seperti kasus Rod Ferrell di Amerika Serikat, seorang pembunuh yang kehilangan akal dan terinspirasi oleh fantasi memainkan peran.

“Saat orang bicara tentang mereka yang menyebut dirinya vampir, yang sering muncul adalah kisah-kisah menakutkan,” kata DJ Williams, ahli sosiologi di Idaho State University.

“Jadi komunitas itu tertutup dan curiga dengan orang asing.” Karena stigma tersebut maka vampir-vampir yang saya hubungi secara online meminta agar saya menggunakan nama samaran untuk artikel ini.

Sebenarnya tak selalu begitu; sepanjang sejarah, kita menemukan beberapa contoh darah manusia dianggap sebagai obat medis yang terpercaya.

Pada akhir abad 15, misalnya, dokter Paus Inosensius VIII diduga mengambil darah tiga pria muda hingga mereka tewas. Kemudian sang dokter itu memberikan darah – yang masih hangat – untuk pasiennya yang tengah sekarat, dengan harapan vitalitas kaum muda itu bisa menular.

Kemudian, darah digunakan untuk merawat epilepsi; mereka yang terkena epilepsi disarankan untuk berkumpul di sekitar tempat eksekusi dan mengumpulkan darah hangat yang masih mengucur dari penjahat yang baru dieksekusi.

“Darah adalah perantara antara fisik dan spiritual,” kata Richard Sugg dari University of Durham, yang baru-baru ini menulis buku tentang “pengobatan jenazah” dan kini menulis satu buku tentang vampirisme.

Dengan minum darah pria yang masih sehat, katanya, Anda menyerap semangatnya dan menyembuhkan apapun yang membuat jiwa menderita. Pengobatan ini kemudian tak populer lagi pada Abad Pencerahan, diikuti oleh puritanisme yang mendominasi pada abad 18 dan 19.

Tetapi praktik tersebut tetap hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Sebelum era internet, mereka terisolisasi, tetapi kemudian lewat berbagai laman web, kini mereka memiliki komunitas bawah tanah yang hidup.

“Dari apa yang bisa terpantau, sebagian besar kota-kota besar dunia punya komunitas vampir,” kata Williams.

Karena ketakutan terekspos oleh media, keberadaan mereka makin tersembunyi. Ini menjadi hambatan bagi Browning saat pertama memulai penelitiannya.

“Ini bukanlah populasi yang ingin ditemukan,” katanya. Dia tinggal di Baton Rouge, Louisiana, hanya satu jam dari New Orleans, kota yang terkenal karena subkulturnya yang hidup. Dia sadar, sekaranglah waktu yang tepat untuk bertemu dengan vampir betulan.

Dengan berjalan keliling kota siang dan malam, Browning mulai menganalisa tempat-tempat (biasanya klub goth) tempat para vampir nongkrong.

Bahkan pada awalnya, dia tidak terlalu khawatir terhadap orang-orang yang akan dia temui.

“Ada untungnya juga menjadi orang dengan tinggi 193cm dan bobot hampir 100 kg,” katanya. Kekhawatiran terbesar Browning bukanlah keselamatannya, tapi para vampir. “Anda bisa mengekspos mereka,” katanya – dan ini berpotensi membahayakan kehidupan pribadi dan profesional mereka.

Pada akhirnya, dia membahas proyek ini dengan seorang pemilik toko pakaian goth, yang kemudian menunjuk pada seorang perempuan yang berdiri dengan dua anak di salah satu lorong toko.

Browning pun mendekati perempuan itu dan menjelaskan penelitiannya tentang vampir. “Akhirnya perempuan itu tersenyum dan mengatakan, ‘Rasanya saya kenal beberapa orang’,” kenang Browning. “Dan saat dia tersenyum, saya melihat dua taring muncul dari giginya.”

Dan taring itu, menurut Browning, “tajam dan berbahaya”. Meski kemudian dia kehilangan kontak dengan “Jennifer”, pertemuan itu mendorongnya untuk terus mencari vampir, dan kemudian dia bisa menjalin hubungan baik dengan satu kelompok besar vampir, yang secara rutin dia wawancara.

Semakin dalam penelitiannya, semakin luas dan semakin berwarna pula spektrum kepribadian yang dia temui.

Meski beberapa orang mengenakan taring dan tidur di peti mati, sebagian besar dari mereka tak tertarik dengan buku-buku atau film tentang vampir.

“Berbagai pertemuan ini terjadi pada tahun 2000-an dan mereka bahkan tidak menonton serial True Blood!” katanya, tak percaya. “Pengetahuan mereka tentang literatur dan film vampir sama awamnya seperti orang biasa.”

Vampirisme datang dengan berbagai warna. Komunitas peminum darah ini bekerja sebagai pelayan bar, sekretaris dan perawat; beberapa adalah penganut Kristen yang taat ke gereja, lainnya ateis; dan seringnya mereka sangat altruistik. “Vampir tak selalu jalan-jalan di kuburan, mendatangi klab malam goth, atau berpesta minum darah,” kata seorang vampir bernama “Merticus”.

“Ada organisasi vampir yang rutin memberi makan warga tunawisma, sukarela di kelompok penyelamat hewan, dan memperhatikan isu-isu sosial.”

Meski sebagian vampir mencari energi psikis yang memberi kekuatan, kelompok lainnya (yang dikenal dengan “med sangs” atau medical sanguinarian atau sanguin medis) percaya bahwa tubuh mereka membutuhkan darah.

“Mereka yang menyebut diri mereka ‘vampir’ sangat berbeda dengan kami,” kata seorang med sang yang disebut “CJ!” (tanda serunya memang bagian dari alias online yang dia gunakan).

“Tetapi, saat kami minum darah – terutama darah manusia – label vampir sulit untuk dilepaskan.”

Vitalitas baru

Saat menanyakan pada subjek penelitiannya, kapan mereka tertarik pada darah, Browning menemukan rasa lapar ini mulai muncul sekitar pubertas.

Salah satu orang pertama yang diwawancara Browning, merasakan ketertarikan pada darah pada usia 13 atau 14 tahun, saat dia merasa selalu lemah, dan tak punya energi untuk lari atau berolahraga seperti teman-temannya.

Suatu saat, dia berkelahi dengan sepupunya, berdarah, dan mulutnya tak sengaja mengenai darah.

“Tiba-tiba dia merasa hidup kembali,” kata Browning. Rasa itu kemudian membuatnya menjadi lapar.

Kisah ini mirip dengan sebagian besar vampir yang dia temui. Selain kelelahan berlebihan, gejala lainnya adalah sakit kepala dan kram perut.

CJ! contohnya, mengalami gangguan pencernaan yang hanya bisa disembuhkan setelah minum darah. “Setelah mengonsumsi darah dengan jumlah yang cukup (antara tujuh gelas shot sampai satu gelas besar), sistem pencernaan saya bekerja dengan baik.”

Teman CJ!, “Kinesia”, juga merasakan hal yang sama. “Selama seminggu, saat lapar, perut saya tak bisa mencerna, dan merasa pusing jika saya makan apapun selain ‘makanan obat’,” katanya.

Kinesia menggambarkan rasa puasnya setelah minum darah, “Saya langsung merasa 100% lebih baik; pikiran saya langsung tajam. Saya bisa makan apa saja tanpa harus bolak-balik ke kamar mandi, dan tak ada rasa sakit di otot atau persendian. Rasa ini bertahan dua minggu, tergantung seberapa banyak darah yang saya minum dan seberapa sering saya meminumnya.”

Tentu saja, donor susah dicari. Bagaimana Anda bisa minta izin pada seseorang untuk minum darah mereka? Menurut CJ!, para donor biasanya adalah teman-teman dekat yang mengerti kebutuhan mereka; Kinesia minum darah suaminya sendiri setiap dua minggu sekali.

Dalam beberapa kasus, para vampir ini harus membayar, kata Browning. Apapun hubungan antara donor-vampir, kedua pihak sepakat. “Yang terpenting adalah memperhatikan donor – memastikan mereka rileks dan bersedia ‘diminum’ setiap saat,” kata Kinesia.

Seperti dirasakan oleh Browning, proses penyedotan darah lebih terasa seperti prosedur medis ketimbang menenggaknya secara rakus.

Biasanya, baik donor maupun vampir akan dites kesehatannya di klinik kesehatan seksual (atau pusat donor darah) untuk memastikan bebas dari infeksi yang menular.

Untuk mengambil darahnya, para vampir menggunakan pisau bedah atau suntikan sekali pakai, yang dibuka di depan donor untuk memastikan kebersihannya – dan mereka akan mengusap kulit dengan alkohol pada potongan pertama.

Jika mereka langsung minum darah dari luka yang terbuka, para vampir ini sebelumnya akan membersihkan bibir, menyikat gigi dan berkumur dengan obat kumur.

Mereka memiliki pengetahuan medis yang lebih canggih: alat-alat CJ! termasuk torniket dan selang infus. Sebelum mengambil darah, dia memberi replika tikus karet untuk diremas oleh si donor, yang memudahkannya untuk mencari pembuluh darah.

Jika mampu, para vampir ini bisa membekukan darah yang berlebihan yang kemudian mereka campur dengan obat anti penggumpalan dan disimpan di kontainer yang kedap udara.

Jika tidak, kata Browning, para vampir akan mencampur darah dengan ramuan teh dan rempah yang bisa mempertahankan darah lebih lama.

“Komunitas sang sangat berhati-hati dan sadar akan kesehatan dan keamanan,” kata “Alexia” di Inggris, yang meneliti soal phlebotomy atau pengambilan darah sebelum menggunakan infus. Proses makan itu sendiri, katanya, “tak istimewa, seperti minum pil.”

Setelah mengkonsumsinya, para vampir ini tidak merasakan efek samping; meski mengonsumsi zat besi dalam jumlah banyak bisa meracuni, namun jumlah zat besi yang diserap tubuh dalam proses makan ini tak membahayakan.

“Saya belum bertemu vampir yang mengeluhkan komplikasi medis setelah dia minum darah,” kata Browning. Meski begitu, Tomas Ganz dari University of California Los Angeles mengatakan bahwa para vampir ini tak bisa mengesampingkan risiko infeksi.

“Melakukan tes di klinik kesehatan seksual tidak menutup spektrum luas penyakit menular seksual, tapi memang mencakup penyakit yang lebih umum seperti HIV atau hepatitis B dan C,” katanya.

Cara terbaik untuk mengukur bahayanya adalah dengan mempelajari catatan medis resmi. Sayangnya, kebanyakan vampir terlalu takut akan stigma untuk memberitahu pada dokter atau pekerja sosial tentang kebiasaan mereka itu.

“Ada satu orang yang mengatakan jika seorang dokter tahu saya vampir, mereka akan mengambil anak-anak saya,” kata William, yang sudah meneliti kemungkinan efek stigma terhadap asuransi kesehatan para vampir.

Beberapa orang, seperti CJ!, menjadi lebih terbuka; dia sudah membahas kebiasaan minum darahnya itu dengan ahli bedah usus, dan seorang psikiater. “Keduanya mendukung, meski sayangnya tak ada yang bisa menawarkan solusi atas masalah kesehatan yang saya alami,” katanya.

Sebagian besar vampir yang saya temui tak menikmati prosedur tersebut, bahkan, jika bisa, mereka ingin tak lagi minum darah – tapi sejauh ini, para dokter gagal mencari cara lain menyembuhkan gejala-gejala mereka. “Kami lebih memilih untuk tidak merasakan gejala klinis ini dan memilih untuk hidup seperti orang normal,” kata Kinesia.

Alexia sepakat: “Jika sebabnya bisa dicari, saya akan minum pil obat”. Salah satu teori mereka adalah mereka bermasalah dengan sistem pencernaan, yang membuat mereka sulit menyerap nutrisi dari makanan biasa – saat dilarutkan dalam darah barulah tubuh bisa menyerap nutrisi.

Meski begitu, para vampir ini terbuka terhadap kemungkinan bahwa kebutuhan mereka hanyalah psikosomatis. “Mungkin saja ini hanya pikiran kami,” kata CJ!. Karena alasan inilah, para vampir berhenti minum darah, untuk melihat apakah gejala yang mereka rasakan akan hilang – tapi sejauh ini tak berhasil.

“Buat saya, satu momen menakutkan saat dibawa ke unit gawat darurat karena detak jantung lemah dan akan melonjak sampai 160 saat saya berdiri, berjalan, diikuti migren yang parah, dan bahkan kehilangan kesadaran,” kata Kinesia.

“Pada dasarnya, jantung saya bekerja ekstra-keras agar bisa berfungsi – reaksi dari empat bulan tanpa minum darah.”

Ganz menyarankan bahwa pemulihan yang dirasakan setelah minum darah bisa jadi hanya fisiologis semata; dokter masih berusaha memahami bagaimana otak bisa mengendalikan kesehatan dengan cara yang nyata.

“Ada kemungkinan efek plasebo yang kuat, sama seperti menelan bubuk pahit, cairan berwarna terang, atau zat lain yang tak terlihat atau terasa seperti makanan biasa,” kata Ganz.

“Efek ini bisa diperdalam jika ada komponen ritual yang dihubungkan dengan pencernaan, dan jika individu tersebut merasa ada efek ekslusif (seperti minum anggur yang sangat jarang dan mahal).”

Karena darah adalah pencahar alami dan sangat bergizi, dia menduga, inilah yang membuat orang merasa sembuh dari kesulitan pencernaan dan mental.

Beberapa orang mungkin membayangkan mereka yang haus darah mengalami masalah kesehatan mental. Namun Steven Schlozman, di Harvard University, mengatakan bahwa diagnosa terhadap orang-orang ini mungkin sangat sulit.

“Jika ada seorang pasien yang datang pada saya dan mengeluhkan atau khawatir tentang praktik ini, respons pertama saya sebagai psikiater mungkin akan menganalisa kondisi psikis mereka karena praktik ini dianggap sangat tidak normal sesuai budaya,” katanya.

Namun dia akan berpikir terbuka dan mencari tahu apakah mereka mendapat manfaat dari praktik ini. Baik Browning dan Williams, lewat kontak mendalam dengan orang-orang ini, melihat bahwa mereka tak memiliki gangguan psikis.

Joseph Laycock di Texas State University, yang juga meneliti identitas vampir, setuju: “Mereka memiliki premis yang berbeda tapi mereka memikirkannya secara logis – mereka memulai dari pemikiran logis akan kebutuhan minum darah.”

Ini adalah contoh menarik dalam diskusi panjang dan sulit di psikiatrik – bagaimana menghindari pengobatan terhadap aktivitas yang tak berbahaya tapi tak biasa, tanpa melupakan orang-orang yang benar-benar butuh pertolongan?

“Kita punya kecenderungan kolektif untuk melabeli perilaku tak biasa sebagai gangguan psikiatris,” kata Ganz. “Tapi saya tak punya dasar menggambarkannya sebagai gangguan jika baik individu yang melakukan atau donornya nyaman dengan pilihan nutrisi mereka yang tak biasa.”

Mungkin setelah kini komunitas vampir mulai terbuka pada orang luar, pertanyaan-pertanyaan ilmiah bisa mencari dan menemukan jawabannya. Sementara itu, sekelompok vampir, yang dipimpin oleh Kinesia, mengambil langkah pertama.

Dengan menggunakan perusahaan komersil seperti 23andme dan uBiome, contohnya, untuk mulai memprofilkan gen dan mikrobiom orang-orang med sang.

“Tujuan penelitian ini bukan untuk membenarkan ‘vampirisme’. Tapi untuk menemukan cara yang praktis dan lebih sosial untuk memenuhi kekurangan atau kebutuhan tubuh, intinya kami mencari opsi perawatan alternatif,” kata CJ!.

Apapun yang mereka temukan, temuan Browning mengajarkan padanya bahwa kita harus menghormati mereka sama seperti kelompok minoritas lain.

“Saat saya mengawali penelitian ini, saya berasumsi bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang yang aneh, tapi dalam setahun, saya sadar, para vampir ini tak punya masalah. Justru kita, non-vampir, yang punya masalah persepsi.”

Hanya karena kita tak memahami pengalaman mereka, bukan berarti kita harus mengejek atau mengecilkan pengalaman itu, katanya. Identitas vampir, bagi sebagian orang, adalah cara untuk mengatasi rasa yang misterius dan melumpuhkan.

“Yang terjadi pada mereka itu nyata. Kita tak mengerti apa itu, dan mereka pun tak tahu apa yang mereka alami – tapi mereka melakukan upaya terbaik untuk mengatasinya.”

Sumber : bbc.com