Jaringan telekomunikasi generasi kelima atau 5G menjadi teknologi yang paling dinanti oleh seluruh orang di dunia, tak terkecuali peretas.

Country Director Palo Alto Networks Surung Sinamo di Kantor Palo Alto mengatakan 5G merupakan inovasi yang memiliki celah keamanan yang bisa dieksploitasi peretas. Secara alamiah setiap inovasi pasti memiliki celah keamanan.

Belum lagi setiap aplikasi baru memiliki periode tanpa proteksi atau ‘zero day’. Hal ini yang bisa dimanfaatkan peretas untuk menyerang aplikasi tersebut.

“Peretas juga senang dengan adanya 5G sebagai jalan tol untuk serangan dia. Setiap ada inovasi baru itu kemungkinan akan menjadi celah,”  ujar Surung di Kantor Palo Alto, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat
(8/2).

Saat 5G resmi hadir, seluruh teknologi terbaru akan turut muncul, mulai dari IoT, teknologi otonom, dan banyak lainnya. Dibanding teknologi lawas, 5G menawarkan kapasitas kecepatan besar yang beriringan dengan meningkatnya jumlah perangkat internet.

Dari sisi keamanan, meningkatnya jumlah perangkat yang tersambung internet turut meningkatkan risiko serangan siber. Oleh karena itu, Surung menyarankan agar setiap perusahaan telekomunikasi merevaluasi ekosistem keamanan siber.

“IoT membawa conected device, connected cars, dan sebagainya. Itu semua 5G dan kapasitasnya makin besar, jadi connected device-nya juga makin besar. Dan itu jadi makin banyak celah,” ujar Surung.

Ada tiga hal yang bisa ditingkatkan sistem keamanannya, pertama adalah keamanan jaringan. Kedua adalah keamanan pada cloud dan ketiga adalah keamanan end-point. Ketiga keamanan ini harus saling terintegrasi agar mampu mendeteksi ancaman keamanan dan memperbarui sistem keamanan dengan mudah.

Evaluasi yang berujung pada modernisasi sistem keamanan bisa membuat perusahaan telekomunikasi menangkal serangan siber yang terus berkembang. Selain itu, perusahaan telekomunikasi Surung juga menyarankan berinvestasi pada  sistem keamanan otomasi.

Dengan adanya sistem otomasi, segala bentuk pendeteksian hingga penangkalan keamanan siber bisa dilakukan dengan cepat dan mudah.

“Operator masih banyak yang menggunakan keamanan legacy. Dia juga harus investasi di otomasi, yang kompleks itu bisa pakai otomasi supaya tidak manual,” tutur Surung.