Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan Indonesia berisiko rendah terkena dampak fenomena badai Matahari dikarenakan berada di khatulistiwa.

Peneliti Pusat Antariksa BRIN Johan Muhammad menjelaskan karena Indonesia berada di khatulistiwa, maka dampak badai Matahari yang terjadi tidak sebesar daerah yang berada di lintang tinggi seperti di sekitar kutub Bumi.

Meski demikian, tidak berarti Indonesia bebas dari dampak badai Matahari. Cuaca antariksa akan banyak berdampak pada gangguan sinyal radio frekuensi tinggi (HF) dan navigasi berbasis satelit.

“Di Indonesia, cuaca antariksa akibat aktivitas Matahari dapat mengganggu komunikasi antarpengguna radio HF dan mengurangi akurasi penentuan posisi navigasi berbasis satelit, seperti GPS,” jelasnya pada Kamis (11/8), seperti dikutip laman resmi BRIN.

“Selain itu, karena semakin tingginya ketergantungan masyarakat di Indonesia terhadap teknologi satelit dan jaringan ekonomi global, gangguan pada satelit dan jaringan kelistrikan di wilayah lintang tinggi seperti kutub akibat cuaca antariksa tentunya juga dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di Indonesia secara tidak langsung,” lanjutnya.

Johan mengatakan Matahari selaku sumber energi utama di tata surya memiliki pengaruh besar terhadap cuaca antariksa.

Cuaca antariksa sendiri merupakan keadaan di lingkungan antariksa, khususnya antara Matahari dan Bumi. Keadaan ini meliputi kondisi Matahari, medium antarplanet, atmosfer atas Bumi (ionosfer), dan selubung magnet Bumi (magnetosfer).

Seperti halnya cuaca di Bumi, cuaca antariksa bersifat dinamis dan sangat bergantung pada aktivitas Matahari.

Johan menuturkan Matahari secara rutin melepaskan energi dalam bentuk radiasi. Beberapa aktivitas Matahari yang berpengaruh besar terhadap kondisi cuaca antariksa diantaranya adalah flare, lontaran massa korona(CME), serta angin surya.

“Aktivitas Matahari secara langsung mengubah kerapatan dan tekanan plasma di medium antarplanet dan ionosfer, serta meningkatkan tekanan magnetik pada magnetosfer Bumi. Akibatnya, berbagai sinyal gelombang elektromagnetik yang biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan komunikasi dan navigasi dapat terganggu saat terjadi aktivitas Matahari yang ekstrem,” terangnya.

Kiamat badai Matahari

Aktivitas badai Matahari kerap dikaitkan dengan kiamat, bahkan muncul istilah kiamat badai Matahari. Johan menyebutnya sebagai istilah yang keliru dan perlu diluruskan.

“Tidak ada istilah seperti itu di kalangan masyarakat ilmiah. Kita telah hidup lama berdampingan dengan cuaca antariksa. Aktivitas matahari rutin terjadi. Yang perlu kita pahami adalah bagaimana prosesnya dan memitigasi dampak negatifnya semampu kita,” ujarnya.

Masyarakat juga disebut kerap panik dan mudah termakan hoaks oleh hal yang berkaitan dengan badai Matahari. Maka dari itu Johan dan pihaknya terus berupaya melakukan edukasi, salah satunya soal siklus 11 tahunan Matahari.

“Matahari memiliki siklus sekitar 11 tahun sekali. Siklus ini sifatnya tidak selalu sama di setiap saat. Terkadang, Matahari sangat aktif melepaskan energi eksplosif, sementara di periode lainnya Matahari bersikap sangat tenang,” jelas Johan

Siklus 11 tahunan ini telah dikenal lama oleh manusia sejak abad 18. Saat ini, kita sedang berada di awal siklus ke-25 yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2024-2025.

Pada waktu tersebut, aktivitas Matahari diperkirakan akan meningkat dengan frekuensi kejadian flare dan lontaran massa korona kemungkinan akan bertambah.

Lebih lanjut, masyarakat yang tertarik untuk mengetahui kondisi terkini cuaca antariksa dapat melakukan pemantauan melalui situs penyedia layanan informasi cuaca antariksa di internet.

BRIN menyediakan layanan informasi cuaca antariksa di situs Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) di laman https://swifts.brin.go.id/.

Masyarakat dapat menemukan informasi mengenai aktivitas Matahari yang terjadi dalam 24 jam terakhir, kondisi geomagnet dan ionosfer global, serta regional wilayah Indonesia.

Johan menyebut data-data yang disampaikan dalam SWIFtS adalah rangkuman dari hasil pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan dunia, serta pengamatan dari antariksa. SWIFtS juga telah dilengkapi dua Bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk memfasilitasi pembaca dari Indonesia dan mancanegara.

“Masyarakat juga dapat mengetahui prediksi cuaca antariksa dalam 24 jam mendatang berdasarkan hasil analisis para peneliti di Pusat Riset Antariksa BRIN,” pungkas Johan.